Menjadi Penonton yang Budiman di Konser Klasik

Tergelitik rasanya untuk mengangkat pembicaraan ini dalam tulisan di blog saya ini, karena setelah kurang lebih 5 tahun belakangan urun nimbrung dalam musik klasik di jakarta dan sekitarnya masih belum ketemu satu kumpulan penonton yang betul-betul menjaga etika selama konser. Ada saja bunyi handphone, kemrisik plastik, makan berat, buang sampah, dan sebagainya. Anak-anak kecil dibawah 10 tahun pun menambah kebisingan itu, dengan tangis lah, teriak-teriak lah, rewel lah, dan seterusnya..

Tidak sulit menghargai suatu pertunjukan terutama musik klasik, tanpa bermaksud kaku atau sok aristokrat untuk genre musik ini. Hargailah penampil yang ada sedang pentas dengan tidak ngobrol, atau bergaduh saat mereka sedang memainkan sebuah karya. Mereka sudah berlatih cukup lama, dan berusaha fokus ketika memainkannya, kecuali pada beberapa karya opera yang memang jenaka, tidak salah anda sebagai penonton tertawa pada konteks bagian tersebut. Kebiasaan buruk lain adalah keluar masuk ruangan dengan bunyi derap sepatu bak tentara sedang apel siaga klak-klok-klak-klok, coba menyesuaikan semua keributan itu pada pergantian penampilan karena di situlah anda bisa berbisik ngobrol, keluar ruangan, dan sebagainya secara santun tanpa menggangu penonton lainnya.

Kalau soal pakaian, ini cukup simpel, tidak perlu berlebihan kecuali anda ditugaskan khusus sebagai “tuan rumah acara” atau host, berpakaian lah sesuai kepantasan dan juga kenyamanan anda. Pertunjukan-pertunjukan di belahan dunia lain sudah mulai lebih longgar dalam aturan berpakaian agar mencegah kekakuan dalam genre musik ini. Pakaian semacan kaos dan jeans sudah diperbolehkan dibeberapa gedung pertunjukan.

Kadang malah bisa terjadi tragedi bilamana konduktor merasa terganggu dengan kegaduhan penonton, bisa saja pertunjukan dihentikan karena tidak lagi kondusif untuk dinikmati. Tanpa bermaksud sarkastik, jika anda bosan dan tidak cocok dengan musik tersebut lebih baik anda tidur atau keluar ke luar gedung untuk sekedar merokok atau cemal-cemil agar tidak membuat kasak kusuk di dalam, dan kembali saat konser selesai untuk memberikan tepuk tangan kepada penampil jika anda rasa perlu.

Ingin rasanya bisa memperoleh suasana yang ideal dalam menikmati sebuah pertunjukan klasik. semoga suatu saat kisah indah ini bisa terwujud…. Menjadi penonton yang budiman berarti kita turut menghargai penonton lain yang ingin menikmati musik tersebut.

Salam…

This entry was published on Oktober 22, 2011 at 6:06 pm. It’s filed under Kesenian and tagged , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

One thought on “Menjadi Penonton yang Budiman di Konser Klasik

  1. Tiyang Atmojo pada berkata:

    Wah kapan ya bisa nonton konser klasik,konser biasa juga belum pernha. Semoga cita-cita anda terkabul.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 383 pengikut lainnya.