Cerita Tentang Ananda Sukarlan

 

Denting piano buatan Steinway & Sons mengalun merdu di Fountain Atrium Grand Indonesia hari Sabtu (9/8). Sebuah tempat yang tidak lazim untuk konser piano memang. Ananda Sukarlan, tuan rumah konser tersebut sengaja memilih mall sebagai venue konser kali ini karena ingin menghapus kesan bahwa musik klasik itu menakutkan. Karya-karya komponis besar macam Chopin, Schuman dan Liszt yang dibawakan dengan profesional menghibur para penonton yang mayoritas keluarga muda pengunjung Mall. Siapa sangka, karya-karya tersebut dimainkan oleh pianis-pianis yang berusia tidak lebih dari 25 tahun, dengan pianis termuda berusia 10 tahun. Mereka adalah para finalis dari Ananda Sukarlan Award, sebuah penghargaan bergengsi untuk pianis muda berbakat di Indonesia.

 

Selain karya komposer Eropa, dimainkan pula karya dari komposer New Zealand yang merupakan sahabat Ananda Sukarlan, Gareth Faar. Terdapat cerita menarik mengenai karya yang berjudul ‘Jangan Lupa’ tersebut. Partitur lagu ditulis di kartu pos yang dikirimkan Faar kepada Ananda. Lebih unik lagi,  ‘Jangan Lupa’ sangat dipengaruhi oleh musik gamelan, karena kecintaan komposer New Zealand ini terhadap musik Jawa. Karya Andanu Chandana, komposer Indonesia yang baru berusia 15 tahun, juga turut dimainkan pada konser malam itu.

”Tidak kenal maka tidak sayang,” mungkin itulah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan apresiasi orang Indonesia terhadap musik klasik. Musik klasik kerap dianggap tidak umum dan memiliki rentang waktu panjang, sehingga kerap dianggap membosankan bahkan aneh. Karena itulah sebagian besar orang mengambil sikap tidak peduli atau sudah bersikap antipati dulu sebelum mendengar lebih jauh. Bisa jadi alasan munculnya sikap tersebut adalah karena kesan yang timbul dari musik klasik tersebut sudah terlalu berat dan rumit. Kemudian, mereka belum memahami musik ini karena tidak pernah mendengarnya secara utuh. Alasan lainnya, mereka memang tidak suka dan tidak pernah bisa memahami jenis musik ini.

“Musik klasik itu seperti rokok atau wine. Pertama kali mencoba mungkin rasanya tidak enak, namun setelah berkali-kali efeknya malah membuat ketagihan. “ ujar Ananda Sukarlan yang merangkap menjadi MC saat konser pemenang Ananda Sukarlan Awards. Setiap jeda, Ananda memberikan deskripsi singkat tentang karya yang akan dimainkan, juga latar belakang singkat dari komponisnya. Misalnya untuk karya Robert Schumann berjudul Widmung yang dibawakan Inge Budiarti, pemenang pertama Ananda Sukarlan Award,  Ananda menjelaskan bahwa karya tersebut sebenarnya sebuah dedikasi  cinta. Untuk orang yang awam musik klasik, informasi tersebut jelas sangat membantu dalam mengapresiasi musik yang identik dengan kualitas dan kejelimetan itu.

Musik klasik merupakan istilah luas yang biasanya mengacu pada musik yang dibuat di atau berakar dari tradisi kesenian Barat, musik kristiani, dan musik orkestra, mencakup periode dari sekitar abad ke-9 hingga abad ke-21. Menurut The New Book of Knowledge, kata Musik memiliki arti sebagai seni mengorganisasi kumpulan nada-nada menjadi suatu bunyi yang mempunyai arti. Kata musik itu sendiri berasal dari sebutan untuk dewi-dewi dalam mitologi Yunani kuno, Muse, yang bertugas menjaga perkembangan seni dan ilmu pengetahuan. Istilah musik klasik dapat diartikan sebagai karya musik yang berkelas atau berkualitas tinggi, bersifat abadi dengan tampilan yang sempurna. Kejeniusan para komponisnya dalam menggabungkan nada-nada ke dalam harmonisasi yang luar biasa, menjadikan musik jenis ini tetap layak untuk didengar sampai kapanpun alias tak lekang oleh jaman.

Meskipun tidak sepopuler di Eropa, musik klasik mendapat tempat tersendiri di hati orang Indonesia. Nama-nama seperti Beethoven, Mozart dan Tchaikovsky tentunya sudah tidak asing lagi, seiring dengan trend new age yang mempopulerkan khasiat musik klasik bagi perkembangan otak bayi dalam kandungan. Namun tidak sampai di situ saja, Indonesia pun kaya dengan para musisi, pianis dan komposer bertalenta. Sebut saja Ismail Marzuki, dengan karya-karya abadinya seperti Juwita Malam, Sepasang Mata Bola, Selendang Sutera, Sabda Alam, dan Indonesia Pusaka. Pada awal abad 19 ketika jenis musik ini berkembang sebagai musik nasional bercorak patriotisme yang kental, karena pada masa itu Indonesia masih belum merdeka. Selanjutnya ada nama-nama besar seperti Amir Pasaribu, Mochtar Embut, Trisutji Kamal, Yazeed Jamin. Untuk generasi selanjutnya ada Jaya Suprana, Levi Gunardi, Ananda Sukarlan, dan masih segudang nama Indonesia yang memberi warna pada musik klasik Indonesia.

            Siapa sangka kalau ditengah keterpurukan ekonomi Indonesia justru mengukir prestasi di kancah musik klasik internasional ? Banyak karya-karya dari komposer Indonesia yang telah mendapat pengkuan internasional. Ananda Sukarlan yang kini menetap di negara Spanyol merupakan salah satunya. Musisi yang pada tahun 2008 ini genap berusia 40 tahun memberikan warna tersendiri dalam dunia musik Indonesia. Nama Ananda Sukarlan merupakan satu-satunya seniman atau musisi Indonesia yang masuk dalam daftra 2000 Outstanding Musicians Of the 20th Century yang dilansir The International Biographical Center of Cambridge, Inggris. Komponis yang telah menerima 70 komposisi musik untuk piano berupa concerto maupun solo yang khusus dibuat untuk dimainkan olehnya seperti lain Nancy Van der Vate dan Roderik de Man juga telah menghasilkan lebih dari 300 komposisi baik orchestra maupun solo ini

            Kesuksesannya di Barat tidak lantas membuat Ananda lupa dengan tanah airnya. Ananda Sukarlan menghasilkan beberapa karya yang sungguh memiliki corak dan warna Indonesia, sesuatu yang disebutnya sebagai “Musik Klasik Indonesia”. Ketika ditanya apakah musik Indonesia, jawaban Ananda Sukarlan sangat sederhana, yaitu musik yang ditulis oleh orang Indonesia. Salah satu contohnnya adalah karya beliau yang berjudul  Rhapsodia Nusantara no.1 yang mengadaptasi beberapa lagu rakyat masyarakat Betawi seperti  “Kicir-Kicir” dan “Jali-Jali”. Karya yang berbentuk rapsodi Liztian ini akan didasarkan pada lagu-lagu daerah Indonesia. Selain itu, karya ini juga dipengaruhi oleh inversi dan teknik-teknis dari Schoenberg, serta ide Salvador Dali, pelukis asal Spanyol, tentang transformasi dari dua elemen. Lagu ini merupakan lagu wajib yang harus dimainkan oleh kontestan Ananda Sukarlan Award. (Sumber  : blog pribadi Ananda Sukarlan).

           

            Pada 17 Juli lalu, Ananda Sukarlan merayakan ulang tahunnya dengan menggelar konser berjudul Maestro at 40. Dikemas dalam konsep Gala Dinner, konser ini   memadukan resital dengan 2 solois yaitu Aning Katamsi,  Josheph Kristanto serta  Paduan Suara Anak Bina Vokalia. Konser ini bagi Ananda adalah saat berbagi rasa dengan penikmat musik sastra Indonesia khususnya di Jakarta. Hotel Alila terpilih menjadi tuan rumah konser ini. Resital di hotel menjadi cerita baru seperti dituturkan Michael Wandow, Director of Sales Alila Jakarta, ”Persiapannya tidak mudah tetapi saya yakin ini akan jadi konser menarik apalagi ditemani makanan yang special yaitu 7 set Main Course”, ujarnya. Pada konser sekaligus Gala Dinner ini ditampilkan World Premiere kumpulan lagu “Nyanyian Malam” dan “Senyap Dalam Derai”.

 

Karya musik tidak bisa lepas dari inspirasi komposernya. Ananda Sukarlan menuturkan bahwa musiknya seperti autobiografi, serta bagian dari realitas hidup. “Jokpiniana” contohnya, terinspirasi oleh puisi berjudul “Dangdut” karya Joko Pinurbo. Ada juga karya yang merupakan persembahan bagi penderita HIV AIDS berjudul “Dalam Sakit” , yang syairnya diambil dari Puisi Sapardi Djoko Darmono. Konon, lagu itu kemudian dibeli oleh Fauzi Bowo, gubernur DKI Jakarta, dan kemudian beliau dedikasikan ke istri tercintanya. Karya lain “Hei Jangan Kau Patahkan”  menunjukkan kepedulian Ananda terhadap pemanasan global.

 

 

 “Seorang dokter ketika ditanya, apa yang tuan lihat di sana? Kita membayangkannya sebagai lidah, yang tiba-tiba dipaksa menjulur. Agar bisa diperiksa apakah kemarin atau tahun lalu”. Penggalan puisi di atas bisa diartikan apa saja, tergantung bagaimana pembacanya. Akan jadi lain ceritanya kalau karya sastra dikomposisikan menjadi karya musik, yang disebut sebagai musik sastra. Penggalan puisi “Yang Paling Menakjubkan” karya Sapardi Djoko Darmono diatas akan menjadi lain rasanya, tidak sekedar kata dengan intonasi, tetapi juga lengkap dengan notasi dan paranada. Musik bisa datang dari mana saja, termasuk dari sastra. Hal ini dibuktikan dengan kolaborasi apik pianis yang pertama kali membuka hubungan budaya antara Indonesia dan Portugal ini bersama sastrawan kenamaan Sapardi Djoko Damono. Kolaborasi ini membuahkan masterpiece “Ars Amatoria” yang pertama kali dipentaskan pada Jakarta’s New Year Concert 2007. Isinya antara lain “Dalam Doaku” berupa duet sopran dan bariton, “Aku Ingin”, dan “Yang Paling Menakjubkan”. Bahkan naskah drama karya Seno Gumilar Ajidharma bisa disulap oleh pianis yang kini menetap di kota Satander, Spanyol ini menjadi karya opera dengan judul “Mengapa Kau Culik Anak Kami”. Jika selama ini kita hanya mengenal “Phantom of The Opera”, “Aida”, dan opera barat lainnya sekarang ada opera buatan anak bangsa sendiri. Pagelaran berdurasi 70 menit ini  direncanakan akan rilis pada bulan Mei tahun depan.

 

Musik ,seperti kata William Shakespeare, merupakan heightened speech. Ketika kata-kata tidak mampu lagi mengungkapkan, bahasa musik menjadi jawabannya.  Musikalisai bahasa dari  karya sastra dan naskah cerita seperti yang bahasan diatas contohnya.“Seorang komponis tidak selau memberi makna khusus yang diinginkan oleh penonton ketika menikmati suatu karya.” tutur Ananda Sukarlan, ketika menjawab pertanyaan menyikapi kebingungan yang dirasakan pendengar musik klasik. Pada akhirnya semua rasa dan sensasi yang didapat dari musik akan dikembalikan kepada pendengar. “Semua pendengar punya hak dalam menilai karya musik, “ lanjur Ananda.

 

Selain sosok Ananda sebagai pianis, beliau juga seorang ayah bagi Alicia Pirena, putri pertamanya setelah menikah dengan Raquel Gomez. Sering kali pada sesi wawancara terucap cerita-cerita yang mengundang tawa tentang buah hatinya. Ananda bercerita Alicia saat ini senang bermain biola, bukan karena diarahkan tetapi bakat musik itu muncul sendiri karena melihat ayahnya setiap hari  menulis musik.  Pianis yang sangat percaya kesempatan kedua dalam hidup ini bercerita bahwa suatu hari, Alicia  menggangu Ananda yang tengah membuat karya. Untuk mendiamkan, maka Alicia dipangku dan diajak Ananda bermain piano. Dari peristiwa itu secara tidak sengaja tercipta sebuah karya piano singkat empat tangan. Ketika ditanya hal penting apa yang pernah dialami dalam hidupnya,  pianis yang konon pernah dikeluarkan dari Yayasan Pendidikan Musik (YPM) karena tidak berbakat ini menceritakan rasa terima kasihnya yang besar kepada Alm Fuad Hassan. Atas bantuan dan dorongan positif beliau, maka Ananda Sukarlan  memperoleh beasiswa musik di Koninklijk Conservatorium, Den Haag. Bentuk terima kasih itu tersaji apik pada sebuah karya “Meninggalkan Kandang”.

 

 

Peran regenerasi sangat penting dalam dunia musik klasik. Regenerasi akan menciptakan dinamika positif. Kesadaran ini harus dipupuk, agar di masa mendatang musik tetap hidup dengan adanya karya yang terus diperbaharui. “Tidak ada yang terbaik dalam industri ini semua harus berusaha menjadi terbaik” tutur pianis pengagum Benjamin Britten ini. Salah satu cara memastikan regenerasi yang diambil Ananda adalah dengan mengadakan Ananda Sukarlan Award setiap dua tahun sekali. Kompetisi yang dimulai pada tahun 2006 ini diprakarsai oleh Pia Alisjahbana dan Dedi Panigoro, yang sekaligus sebagai penyandang dana kompetisi ini. bermunculan. Pesertanya mulai usia dibawah 10 tahun sampai usia diatas 20 tahun. ”Stimulus seperti ini perlu digalakkan. Kompetisi menjadikan seseorang berkembang dalam karier termasuk musik. Masa depan itu ada di generasi muda bukan di generasi tua”, tegas Pia yang belum lama ini merayakan ulang tahun ke 75 disela-sela konser pemenang AnandaSukarlan Award 2008. Pia berharap kompetisi piano ini dapat melahirkan insan berbakat yang bisa menjawab tantangan zaman yang semakin global terutama di bidang musik

 

Ketika ditanya bagaimana perkembangan musik klasik pada abad ke 21 ini, Ananda Sukarlan mengatakan bahwa musik klasik akan tetap sama perkembangannya seperti yang sudah – sudah. “Tidak akan menjadi lebih baik atau lebih buruk, dan selamanya akan memiliki jumlah penikmat yang lebih kecil dan bukan mayoritas orang.” , tutur Ananda. Untuk menutup pembicaraan, pianis sekaligus komposer yang memasang tarif enam sampai dua belas ribu Euro per konser menegaskan bahwa peran serta pemerintah dalam pengembangan industri musik klasik sangat penting. Pendidikan di Indonesia belum mampu memberikan nilai yang tinggi pada musik, saat ini saja di dalam kurikulum pendidikan nasional pelajaran musik sudah tidak menjadi pelajaran wajib. Disinilah peran aktif dari institusi pendidikan tersebut juga berperan. Contohnya,Universitas Parahyangan Bandung dan Universitas Pelita Harapan jakarta dengan masing-masing grup paduan suara dan orchestra telah mencoba memasyarakatkan karya komponis-komponis klasik kepada mahasiswa dan generasi muda, yang notabene merupakan kalangan yang tidak mudah menyukai musik klasik. Pianis yang berkeinginan pensiun di Indonesia ini memberikan harapan bagi kita semua bahwa perkembangan musik klasik di Indonesia itu akan tetap ada, walaupun perlahan tetapi pasti.

 

Ananda Sukarlan Maestro Indonesia

Ananda Sukarlan Maestro Indonesia