The Power of Starbucks

Jarang sih, saya meluangkan waktu khusus untuk nongkrong di tempat yang satu ini. Tapi tidak memungkiri beberapa kali suka juga nongkrong di tempat yang dianggap atau dibilang cukup “bergengsi” buat nongkrong. Sampai-sampai teman saya, ketika saya merubah status “anggana is at starbucks citos” langsung ada komentar yang ditulis oleh teman saya di status. Biasanya status di facebook akan cepat dikomentari apabila menyangkut sesuatu yang urgent seperti lagid diopname di rumah sakit, kabar duka cita, etc. Bisa juga kalau orang tersebut memang sangat dikenal luas seperti politikus DPR Yuddy Chrisnandi, Ferry Musyidan Baldan, Pramono Anung dan banyak lagi ketika mereka merubah status seperti “is sedang rapat komisi, diskusi dengan konstituen, menemui demonstran dll” pasti dalam hitungan detik akan ada beberapa orang yang komentar.

Kembali kepada “Starbucks” apa sih yang membuat banyak orang lalu-lalang masuk keluar di kedai kopi ini?

*Lokasi

lokasi yang cukup bahkan sangat strategis di pusat keramaian, bahkan sampai rest area stasiun pengisian bahan bakar. Lokasi ini memudahkan konsumen mengingat dan menemukan kedai kopi yang satu ini.

*Interior

Kedai Kopi yang pertama kali dibuat di kota Seatle Amerika Serikat membuat suasana kedai kopi yang warm, cozy, modern, hommy, nyamam (pastinya) dan kesan nyaman. Pemikiran konsumen ketika masuk ke dalam, dengan segudang ekspektasi seperti “enak nih, duduk di starbucks” kesan itu sudah sangat melekat, ketika orang memutuskan nongkrong di kedai kopi ini. Belum lagi dengan kursi dan sofa nyaman yang sudah siap diduduki.

*Rasa

Memang poin yang satu ini sangat bernilai relatif, tergantung selera. Banyak juga kedai kopi saingan yang menyajikan sajian yang hampir sama baik gaya, konsep kedai, cara penyajian etc. Pribadi saya menyatakan rasa kopi yang disajikan di tempat ini (black coffee standart) tidak memenuhi ekspektasi saya sebagai peminum kopi pemula. Tapi dengan segudang recipe yang dimiliki, ada saja yang buat ingin kembali minum di starbucks. (java chip mode on)

*Fasilitas

Majalah, koran, AC, kartu UNO, wi-fi, musik background, Kursi yang nyaman, listrik untuk laptop dan free magazine(sebagai pick up point). Fasilitas ini diberikan cuma-cuma untuk dinikmati kecuali koneksi internet yang setahu saya harus membayar fasilitas provider tertentu baru kemudian bisa menikmati koneksi internet. bagi saya ini sangat menunjang.

*Harga

Cukup tinggi, saya tidak membahas lebih jauh tentang harga karena ini sangat tergantung. Kecuali faktor gengsi biar keliatan “Wah!!” nongkrong di starbucks. Ketika tulisan ini saya buat saya sedang duduk di kedai kopi yang sedang saya bahas dengan Tazo Tea seharga Rp 17.500, item ini yang paling irit di kedai kopi yang sudah dibukukan di Buku ‘The Starbucks Experience“.

*Branding

Brand kedai kopi ini sudah sangat kuat melekat, dan di Jakarta Khususnya memang kedai kopi ini sebagai yang duluan nongol sebagai kedai kopi dengan konsep modern. First mover advantage memberikan kekuatan tersendiri, dan semua sudah tahu lah, bagaimana rasanya ketika ada telpon dan pasti kalau kita berada di suatu mall dengan yakin akan dijawab “gw di starbucks nih!” . Gengsi yang tidak dapat diukur menjadi kekuatan brand ini untuk tetap eksis di jagad per-kedai kopi-an.

Yang bisa saya tarik dalam beberapa jam saya nongkrong di kedai kopi yang menerapkan misi yang difokuskan kepada kopi yang disajikan, konsumen, partner kerja, stores, neighborhood, dan shareholders memiliki daya tarik yang tidak bisa dideskripsikan. Bicara jakarta, dan kota besar di pulau jawa kalo ngomong “nongkrong dimana?” di Starbucks aja deh..

Dari artis, pengusaha, anak sekolah (bahkan anak SD), anak gaul, dan banyak lagi. Arisan, ngumpul-ngumpul, ngerjain tugas, pacaran, negosiasi bisnis, asuransi, bahkan selingkuh disaksikan bisu oleh kedai kopi ini. Gengsi pun banyak menyelubungi pengunjung kedai ini. Menarik banget membahas kedai kopi yang didirikan Howard Schultz ini.

“they not drink coffee, they drink Starbucks”

Howard Schultz