Hubungan Bisnis Karaoke Inul dengan Permesuman?

DEPOK – puluhan anggota organisasi masyarakat di Depok mendatangi kantor Wali Kota Depok di Jalan Margonda Raya sore tadi, Senin (19/1/2009). Para ulama ini menuntut walikota Depok untuk menutup karaoke bisnis milik artis dangdut Inul Daratista yang terdapat di Mal Depok dan sudah diresmikan beberapa waktu lalu.

Ketua Formasi, Ahmad Saifuddin mengatakan kedatangan mereka menemui walikota Depok asalah untuk menunjukkan rasa keprihatinan terhadap kota Depok yang sudah mulai semarak dengan kemaksiatan dan kerusakan moral. Contohnya seperti rumah kost, tawuran pelajar, minuman keras, dan karaoke milik Inul. Maskotnya goyang ngebor,” ujarnya.

Transformasi musik dangdut, dari goyang seadanya menjadi goyang se-hebohnya menelurkan artis-artis seperti Anissa Bahar, Inul Daratista, Nita Thalia, Trio Macan, Dewi Persik, sampe Saipul Jamil yang memberikan goyangan heboh ketika bernyanyi di hadapan penonton. Rhoma Irama menyatakan perang terbuka dengan pedangdut seronok seperti yang disebutkan di atas, kecuali Saipul Jamil (ya iya lah…).

Inul si ratu Ngebor, sampai hari ini masih belum tenang hidupnya. Bayang-bayang terror, dulu sempat dia mau pasang patung di depan rumahnya sendiri. Belum juga dipasang sudah diserbu salah satu ormas (FPI). Sempat juga Inul diisukan bakal diusir dari perumahan elite pondok indah oleh sekelompok massa.

 OH Tuhan…

Merunut artikel yang dikutip, saya gak habis pikir dengan pola pemikiran masyarakat. 100% setuju saya dengan ant i per-mesuman di area umum, tetapi mesti diingat semua orang punya area privat dan hak-hak yang tidak boleh dilanggar. Inul memang pelopor di ranah pergoyangan musik dangdut, tetapi apa dia yang harus disalahkan? sebelum ada Inul pun dunia prostitusi sudah menjadi hal yang umum. Sebelum ada inul pun laki-laki dan perempuan hidung belang pencari kepuasan di luar rumah pun sudah banyak.

Bisnis yang dijalankan seorang Inul memang murni sebuah bisnis karaoke, bukan bisnis yang lain. Urusan ada penyalah gunaan itu urusan lain, itu masalah hukum. Ga usah di karaoke yang tertutup, di bioskop yang notabene terbuka aja dan bersampingan dengan penonton yang lain aja, sering terjadi perbuatan-perbuatan “yang cukup sedap” untuk dilihat sebagai hiburan gratis. Kenapa ga bioskop aja yang didemo? Banyak bioskop kelas bawah yang terang-terangan memasang film-film “Gairah Tabu”, “Ranjang Berdarah”, “Gairah Tante Susi” dan judul-judul mengundang lainya, bukan cuma itu malahan posternya dipasang dengan terbuka dan “mengundang” asumsi lain selain menonton film.

Munafik, dan asas iri hati. Jangan cuma iri dengan keberhasilan seseorang. Karaoke Inul beberapa kali pernah saya kunjungi dan keadaanya cukup kondusif, dan setau saya ada kamera pengawas yang bisa memantau keadaan konsumen yang sedang menggunakan bilik karaoke. Sebelum ada karaoke keluarga yang memiliki citra positif seperti Nav, Happy Puppy, Inul Vizta, dan beberapa nama perusahaan lain citra karaoke rental mendapatkan citra yang kurang baik. Perubahan penataan ruangan, pencahayaan, tarif, dan lainya membuat citra karaoke rental menjadi lebih baik.

last point, jangan campur-adukan masalah bisnis dengan agama. Jangan membawa bawa agama sehingga ada konflik yang lebih sensitif. Apakah anda cukup suci dan berwenang menghakimi perbuatan seseorang. Indonesia punya lembaga hukum dan peradilan. Serahkan semua mekanisme ke jalur hukum, laporkan jika ada yang tidak tepat ataupun melanggar hukum. Jangan sok menjadi Tuhan.