InterMatrix Communications menggelar seminar bertajuk, “Mengkaji Dampak Tsunami Finansial Dunia pada Indonesia”

 

Kalangan dunia usaha adalah bagian penting dalam roda perekonomian. Pemerintah memberikan paket stimulasi sebesar 52T yang diperuntukan untuk sektor usaha barang jadi yang siap diserap pasar guna  menjaga daya beli masyarakat. Gelaran seminar, “Mengkaji Dampak Tsunami Finansial Dunia pada Indonesia” di Jakarta, Rabu (21/1) oleh Intermatrix Communications juga menyiratkan bagaimana dunia usaha menyikapi problema ditengah krisis. Sofjan Wanandi pemilik kelompok usaha Gemala dan kini menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sepakat dengan pembicara yang hadir bahwa krisis ini tidak akan menjadi seperti krisis 1998. Tetapi Pengusaha yang juga aktif dalam kepengurusan KADIN ini menjelaskan krisis yang dirasakan semenjak kwartal IV 2008 sampai kini kwartal I 2009 belum merupakan titik terdalam krisis. Episentrum tsunami krisis wall street dan main street negeri paman sam memberikan dampak signifikan di sektor industry berwawasan ekspor dan menggunakan bahan baku impor. Komposisi penyerapan produksi nasional terbagi 70% pasar lokal dan 30% ekspor. Dunia usaha mau tidak mau akan menurunkan kapasitas produksi, imbasnya pada penurunan pendapatan yang akhirnya akan merujuk ke mimpi buruk perekonomian yaitu Unemployment  .Dunia usaha Indonesia masih menurut Sofjan Wanandi, kini bahu membahu bersama pemerintah untuk sedapat mungkin menghindari opsi “PHK” dalam menyelamatkan pembukuan perusahaan. Ketua I DPH Prasetiya Mulya Business  School ini menuturkan peningkatan “PHK” akan terlihat apabila tidak terjadi perubahan keadaan perekonomian nasional di Kuartal I & II 2009. Sektor yang masih relatif aman yaitu food and beverages yang akan juga didukung oleh momentum Pemilu 2009, diharapkan mampu memberikan kontribusi pada PDB.intermatrix-communications-menggelar-seminar-bertajuk-mengkaji-dampak-tsunami-finansial-dunia-pada-indonesia3

Prediksi ekonomi Indonesia 2009 barangkali lebih baik dibandingkan negara lain. Perspektid  yang ada, yakni ekonomi Indonesia mungkin masih bisa tumbuh sekitar 4.5 persen, salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara. Lebih tinggi dibandingkan Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Sayang pada kuartal IV 2008 ekspor Indonesia terkoresi hingga minus 9,2% maka pemerintah buru-buru mempersiapka paket stimulan fiskal. Chatib Basri pada kesempatan yang sama secara tidak langsung menjawab stimulan dipersiapkan pemerintah bertujuan untuk mempertahankan laju konsumsi rumah tangga yang menyumbang 65% dari PDB. Stimulant fiscal ini ditujukan terutama golongan masyarakat menengah bawah yang memiliki kecenderungan konsumsi yang tinggi. Sisi demand (konsumsi) akan secara otomatis menggerakan supply (industry). Program cash transfer masih menjadi pilihan pemerintah melalui BLT dan cash for work dalam rupa PNPM agar dapat memberikan efek yang langsung di masyarakat. Sisi Industri pun tidak luput dari stimulant pemerintah dalam bentuk Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) dan Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BM DTP)

Ekonom Fasial Basri pada gelaran ini mengingatkan agar pemerintah jangan menunggu hingga keadaan yang terburuk. Stimulasi yang disiapkan perlu kembali dipertimbangkan efisiensinya secara proporsional. Minyak goreng sebagai contoh, harga CPO dunia sudah mengalami penurunan yang cukup signifikan sehingga memang sewajarnya mengalami penurunan, begitu juga BBM yang mengalami penurunan dari level $110 anjlok pada level $40-an per barel. Sehingga menurut faisal belum ada tindakan nyata pemerintah di dalam mengantisipasi serta menyikapi dampak krisis secara nyata. Dosen ekonomi di program pasca sarjana Universitas Indonesia ini menjelaskan secara indikator ekonomi dalam keadaan yang masih aman. Pemerintah perlu mengantisipasi short capital inflow dalam negri akibat kekeringan likuiditas pasar global. Iklim investasi yang sehat akan meningkatkan foreign direct investmen(FDI) yang dampaknya dapat meningkatkan produktivitas dan penyerapan tenaga kerja. Penyerapan APBN harus menjadi prioritas, dengan rata-rata penyerapan 70% di beberapa tahun belakangan pemerintah harus menunjukan komitmen menjaga government spending sehingga roda ekonomi bergerak, masyarakat memperoleh pendapatan yang menimbulkan daya beli (konsumsi) efeknya  dana penerimaan pemerintah melalui pajak dapat tetap terjaga.

Tsunami krisis menuntut ditingkatkanya public private partnership untuk semua sektor. Konsistensi arah ekonomi nasional, agar pembangunan dan pengembangan dapat diproyeksi secara jangka panjang.

 

“By a continuing process of inflation, government can confiscate, secretly and unobserved, an important part of the wealth of their citizens.”

John Maynard Keynes   

English economist, journalist, and financier, 18831946

 

Anggana Bunawan