Java Jazz Festival 2009 ( Fenomena Antrian )

Java Jazz 2009
Ayo siapa yang beli tiket java jazz 2009? Kalau anda salah satunya mungkin memahami apa yang saya tuliskan pada artikel ini. MENGANGNTRI PANJANG, Lama dan melelahkan. Walaupun proses pengambilan tiket sudah dilaksanakan di sebuah hotel kelas internasional di bilangan Gelora Bung Karno. Panitia menyediakan Booth ukuran 3 m x 5 m yang melayani pengambilan tiket mulai 2 maret – 5 maret 2009.

Terlepas dari siapa dan bagaimana dibelakang penyelenggraan event akbar ini, sungguh bagi saya pribadi tidak ada kesan yang cukup professional dalam proses pengambilan tiket, sekali lagi saya perjelas di proses pengambilan tiket. Antrian sangat panjang dan cukup lambat untuk sampai ke loket penukaran. Semua yang mengantri rata-rata merogoh kocek 200-600ribu untuk dapat menyaksikan langsung event tahunan music jazz di Jakarta ini.

Ada beberapa kejadian unik, pada tanggal 3 Maret 2009 saya ikut mengantri dari ujung jendela danau hotel belok lagi kira-kira dua sampai tiga pintu tenant yang ada di sana. Tiba-tiba ada panitia yang menempelkan pengumuman “ Bagi pemesan tiket dengan nama berhuruf awal A, M, dan R dapat mengambil tiket di JHCC pada jam 15.00(saya lupa apa jam 16.00), sehingga beberapa pengantri di depan saya merasa lega karna ada alternative tempat lain untuk redeem tiket. Tidak lama waktu berselang sekitar 45 menit pengumuman itu dicabut kembali dengan alasan hujan sehingga tidak bisa dilaksanakan. Tidak lama berselang kembalilah para pengantri dengan huruf awal A, M, dan R yang merupakan huruf awal mayoritas yang memesan tiket festival ini.

Secara pribadi pula, jujur saya kecewa dengan perlakuan terhadap konsumen “Java Jazz 2009”. Seharusnya saran saya, dibagi beberapa tempat pengambilan tiket agar tidak terjadi penumpukan konsumen. Belum lagi ada jalur khusus seperti “Tiket Simprug(saya lupa namanya)” jadi kesanya ada pengotak-kotakan, padahal sloganya “ It’s a festival for all” jadi untuk semua bukan dikhususkan untuk satu atau beberapa kalangan.

Diakhir tulisan ini saya juga menyatakan penghargaan yang tinggi kepada para volunteer yang menjaga booth tiket dengan sistem manual sehingga ketelitian mereka perlu diacungi jempol “two thumbs up!” sekian banyak container yang berisi amplop pemesan berhasil dipilah oleh mereka untuk memenuhi hasrat pencinta music jazz tanah air. Juga kepada penyelenggara terlepas dari kekecewaan saya diatas, terima kasih sudah berusaha memberikan suguhan music yang berbeda di tanah air dan menjadi kebanggaan negara kita. Festival ini skala nya sudah internasional, semua saran ini hanya semata untuk memberikan masukan agar acara ini mampu diselenggarakan semakin baik di masa mendatang.

VIVA MUSIK INDONESIA!

Anggana Bunawan