Triple Celebrations “ Ananda Sukarlan Piano Recital”

Triple Celebrations “ Ananda Sukarlan Piano Recital”

Tripple celebrations moment

Tripple celebrations moment

Maestro Piano Indonesia mungkin harus merujuk kepada Ananda Sukarlan. Rabu 4 Maret 2009 saya berkesempatan menghadiri konser kecil-kecilan sang maestro. Usut punya usut nama konser “triple celebrations” merupakakan bagian dari acara itu sendiri, yaitu 200 tahun meninggalnya Joseph Haydn (1732 – 1809) 200 tahun kelahiran Felix Mendelssohn Bartholdy (1809-1847) 60 tahun Jaya Suprana Indonesia, 1949). Ketiga nama itu merupakan komponis kenamaan dunia. Jaya Suprana memang yang paling unik. Pakar Kelirumologi ini memang jarang muncul sebagai pianis dalam acara-acara musik tanah air. Namun pada malam itu Ananda Sukarlan memainkan seluruh karya dari CEO Jamu Jago itu. Semua penonton langsung kaget! Karena tidak mampu mebayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk dapat menghabiskan semua karya Jaya Suprana. Decak tawa penonton langsung pecah saat Ananda mengatakan “jangan takut, Cuma ada 4 kok,!” hahaha… smua jadi tenang kembali. Tembang Alit, Fragment, Dolanan, dan In Memorian Ki Narto Sabdo merupaka keempat karya yang dihasilkan Jaya Suprana.

Amazing! Karya Jaya Suprana memang patut diacungi jempol. Ananda bertutur malam itu ada unsur menghibur dan kesan tradisional yang mampu diceritakan oleh pianis pendiri museum rekor Indonesia ini. Saya sependapat dan mungkin saya jujur mengatakan karya Jaya Suprana memang Ajaib sayang beliau tidak seproduktif komponis lain. Pada malam itu juga secara resmi diumumkan secara resmi pendirian Yayasan Musik Sastra Indonesia yang dibantu secara aktif oleh Pia Alisjahbana dan Dedi Panigoro sebagai pelindung dan Pembina yayasan. Tujuannya tidak lain untuk memberikan sumbangsih kepada dunia musik tanah air. Hadir juga malam itu komunitas anak-anak pencinta music dari tangerang banten yang langsung duduk diatas panggung menyaksikan permainan jemari lentik pianis yang kini menetap di Spanyol ini.

Malam itu juga dimainkan 2 lagu khusus dibuat untuk original soundtrack film “Romeo dan Juliette “ karya sutradara Andibachtiar Jusuf yang pada malam itu juga turut hadir. Judulnya Nostalgia (walau judul nostalgia seingat saya pernah dipakai Ananda Sukarlan pada komposisi sebelumnya) dan satu lagi “Romeo and Juliette” hasilnya saya merasa klepek-klepek ketika kedua lagu itu dimainkan. Romantis banget! Sangat terasa aura cinta yang mengalir dari kombinasi nada yang dimainkan. Hikz…

Saya jujur juga mengatakan tidak ingat karya Mendelssohn dan Joseph Hayden mana yang dimainkan. Tidak ada buku program malam itu, tidak ada poster, tidak ada media promosi dalam bentuk cetak. Kecuali tiket itu juga terpaksa menurut Chendra manager Ananda Sukarlan. Tidak mungkin tidak memberikan tiket kepada penonton yang hadir. Tujuannya tidak membuang kertas secara percuma, dan konser malam itu tidak mensia-siakan pohon yang semakin menurun jumlah populasinya.

Dengan baju setelan jeans belel sederhana Pianis itu membuka dengan rhapsodia nusantara no.1 dengan corak budaya Jakarta. Sederhana sekali .. sangat sederhana penampilannya malam itu. Hampir semua kursi diisi penuh. Kecuali di bangku deret VIP yang merupakan kursi khusus untuk undangan dan tidak semuanya hadir pada malam itu. Saya sempat pindah dari kursi setengah regular ke kursi VIP (thanks Tante Pia).

Secara detail saya tidak bisa menjabarkan karna saya lupa judul judul yang dimainkan pada malam itu. Nanti kalau sudah ada update mungkin akan dilengkapi. Konser ditutup dengan Rhapsodia Nusantara No. 3 dengan mengambil inspirasi dari lagu “rasa sayange” yang pernah diklaim sebagai lagu negara Malaysia (males banget!). komentar saya Luar Biasa.. luar biasa.. coba deh kalau ada kesempatan anda mendengar karya Rhapsodia Nusantara Ananda Sukarlan mungkin anda akan berkomentar yang sama. Kalau ingin memperoleh gambaran bagaimana karya Ananda Sukarlan coba saja search di youtube dengan keyword ananda sukarlan. Memang mungkin belum terbiasa mendengar karya klasik, namun pianis itu berkomentar ketika ditanya seorang wartawan dari suara merdeka. “kalau kita suka sayur asem misalnya, apakah harus kita mengetahui bagaimana cara membuat atau betapa rumitnya proses pembuatannya?, sepanjang masih bisa dinikmati ya dinikmati” begitu pianis itu bercerita.

Anggana Bunawan