Batavia Madrigal Singers “ Sanguinis Choraliensis”

Batavia Madrigal Singers “ Sanguinis Choraliensis”

WoW!, itu dia kata yang selalu saya ucapkan ketika menyaksikan beberapa penampilan paduan suara besutan konduktor Avip Priatna yang merupakan jebolan dari University of Music and Performing Arts Vienna, Austria. BMS biasa paduan suara ini disebut oleh kalangan pecinta music klasik dan paduan suara di tanah air. Konser yang berlangsung di malam minggu 4 April 2009, bertempat di Goethe Haus bertajuk “ Sanguinis Choraliensis” yang artinya menurut buku panduan yang saya dapatkan yaitu “Kenikmatan dengan menyanyi di dalam paduan suara” buat saya ini sangat mengena sekali judulnya. Kenapa? Kalau anda sempat suatu hari nanti atau bagi anda yang sudah pernah menyaksikan penampilan BMS, pasti anda akan setuju dengan tajuk konser mereka. Wajah personel BMS menyiratkan aura kenikmatan menyanyi dalam paduan suara, bukan “aduan suara”.

Konser semalam dibagi dalam dua babak, babak pertama menampilkan karya composer tahun tahun 1500-an sampai pertengahan tahun 1900-an. Semua nomor yang dipentaskan diurutkan dari tahun yang paling tua ke tahun yang lebih muda. Dibuka dengan Sancta Et Immaculata Virginitas karya Lacobus Handi Gallus(1550-1591) membuat semua penonton diam tanpa tepuk tangan ketika lagu itu selesai dinyanyikan. Jujur saya tidak begitu paham tentang musik-musik di babak pertama konser ini tapi ada beberapa yang berkesan buat saya, diantaranya Also Hat Gott die welt Geliebt Karya Heinrich Schutz (1585-1672) lagu ini dibawakan sangat dinamis (entah benar atau tidak istilah saya), dinamika dari piano sampai forte, mulai mengeras sampai melembut (crescendo- decrescendo) terlihat sangat jelas. Lagu lain yang sangat membekas di ingatan saya yaitu Hope, Faith, Life, Love karya Eric Whitacre (b.1970) mudah saja buat saya menjelaskan karena sempat bertanya pada devi seorang anggota BMS, dia menyatakan bahwa nada lagu ini berbicara tentang Hope, Faith, Life, Love. Buat saya lagu ini dibawakan sangat indah, terutama pada lirik Love.. Love.. semua penyanyi melafalkan kata ini dengan sangat sexy dan “basah” (duh istilah yang saya pakai.. mohon dimaafkan ya..) sehingga puncak lagu ini bisa dirasakan dengan begitu jelas. Babak pertama diakhiri dengan Gloria karya Ryan Cayabyab(b.1952).

sangunis choraliensis

Berlalihlah saya ke babak kedua, ini dia yang banyak penonton awan tunggu. Lagu-lagu yang dibawakan lebih easy listening, walau dibuka dengan sebuah lagu Immortal Bach karya J.Bach/arr. Knut Nystedt (b.1915), yang dibawakan dengan formasi khusus yang membuat anggota BMS berdiri di beberapa sisi auditorium untuk mendapat efek khusus untuk lagu ini, saya pernah menyaksikan BMS membawakan lagu ini dengan lebih baik di Konser di Gereja Santo Paulus Jakarta . Lalu lagu kedua dibawakan dan lagu ini membuat saya sangat tersentuh, Lead Me Lord arr. Robert Degaldo dibawakan sangat indah, indah dan indah (saya ingin mendengar lagi BMS membawakan lagu ini.. someday). Lagu the Beatles, Here There and

Everywhere, Honey Pie yang dibawakan sangat atraktif dengan sentuhan ornament beat box music dan siulan centil membuat badan saya tidak mau kompromi untuk bergoyang. Kemudian ada juga 3 lagu folksong mengakhiri babak kedua. Tepuk tangan tidak henti menggemuruh ketika babak kedua berakhir, standing applause menjadi pertanda penonton yang hadir malam itu sangat menikmati penampilan BMS malam itu. Anchor song pun dimainkan dengan menyajikan lagu daerah Indonesia mande-mande arr. Farman Purnama dan yamko rambe yamko arr.Bambang Jusana.

Malam itu merupakan konser pre-competition untuk BMS yang akan mengikuti kompetisi paduan suara bergengsi The 10th Maribor International Choir Competition di Slovenia. Hanya 12 paduan suara yang terpilih dari selu ruh dunia dan BMS satu-satunya peserta yang berhasil lolos dari wilayah Asia (hebat banget ya.. ). Ajang ini merupakan rangkaian dari The European Grand Prix of Choral Singing, ajang kompetisi paling prestisius di benua Eropa.

Saya dan semoga juga anda yang membaca tulisan ini memberikan dukungan penuh kepada BMS, semoga kompetisi yang akan diikuti nanti akan mengharumkan nama Indonesia di dunia. Saya menyarankan anda yang membaca untuk mencoba menikmati music paduan suara atau choral music dengan menyaksikan penampilan BMS pada sekitar bulan oktober dan desember tahun ini.

Anggana Bunawan

(foto diambil dari Chirstiansen Dongoran facebook page)