Inacraft 2009 antara pengalaman dan realitas yang saya alami

Inacraft 2009 antara pengalaman dan realitas yang saya alami

Sebuah perhelatan akbar tahunan yang menampilkan berbagai macam hasil karya seni kerajinan tanah air digelar di Jakarta Convention Center. Antrian udah menjadi pemandangan yang lazim di event ini, hebatnya pengunjung harus membeli tiket seharga 10.000 rupiah untuk bisa masuk ke arena acara (walaupun saya sempet berhasil menerobos masuk kedalam tanpa tiket). Tahun lalu saya datang sebagai pengunjung yang takjub dengan berbagai hasil karya yang dipamerkan dan tahun lalu seingat saya gratis..

Tahun ini karena ada business project maka saya tahun ini berpartisipasi sebagai bagian dari peserta (kalo peserta dapet stand full kalo saya satu stand beramai-ramai). Harapan besar sudah ada dikepala saya dan team tentang bagaimana besarnya peluang memperoleh penjualan yang maksimal pada acara ini. Hasilnya bagaimana???? sebuah stand hasil kerjasama dengan departemen perdagangan di Hall B JHCC menjadi tempat saya dan team menggantungkan harapan itu. Ternyata?? Oh My God! sebuah stand standar mungkin 4 x 4 meter dibagi untuk memenuhi harapan 5-6 pemilik bisnis dan kami salah satunya. Bisa dibayangkan?? dari penjual kain, selendang, tas dan kerajinan sulam emas tumplek blek disana. Apa sudah bisa dibayangakan??? stand diatur semaunya, oleh masing masing pemilik bisnis dengan prinsip “kepentingan pribadi” hasilnya apa?? stand sangat tidak teratur dan jangan harap pembeli mau datang. Bener-bener itu terjadi loh..!! jadi pelajaran pertama adalah kalau hendak berjualan aturlah barang anda dengan baik.

Kemudian apa yang terjadi?? Hari demi hari saya dan team tetap berusaha berjualan dengan keadaan yang seperti itu.. sampai di hari jumat ketika giliran saya bertugas jaga pecahlah sebuah konflik yang entah apa yang menyebabkan, dan akhirnya diputuskan saya hengkang dari stand yang dipungut biaya oleh seorang dari organisasi pengrajin skala nasional dibawah naungan sebuah departemen pemerintah. Biayanya berapa yang dipungut? Ga besar kok dibawah 1juta. Ributnya ga lain ga bukan urusan lahan yang sempit itu di klaim oleh seorang ibu, yang memproduksi selendang itu.. dia bilang bahwa setengah stand itu ibu yang berhak (what the…!!). Ga perlu pikir panjang saya bereskan lah smua barang-barang dagangan yang saya dan team bawa untuk dibawa ke mobil dan mengakhiri perjalanan penjualan saya di event yang akbar itu.

Realitas yang saya rasakan tentang event besar tersebut diantaranya,

• Jangan khawatir dengan pengunjung, sejauh apapun stand anda pasti akan ada pengunjung yang lewat
• Fee yang dibebankan bervariasi dari gratis dibagi 5 sampai dengan 12 juta per stand dari awal hingga akhir event
• Daya beli pengunjung inacraft sangat beragam, dari yang ingin beli barang-barang 5000-an sampai perhiasan diatas 20 juta pun ada di sana
• Anda berkesempatan (jika anda bagian dari undangan dan pemilik stand) untuk melihat president republik Indonesia dengan jarak yang sangat dekat sekitar 2 meter dari posisi anda berdiri, moment ini bisa anda dapat ketika anda mengikuti tour president ke stand peserta
• Lokasi Hall A pada event tahun ini lebih menarik dari pada Hall B
• Produk-produk yang dipamerkan mayoritas adalah batik, baju daerah, dan usaha kecil menengah yang sangat beragam dari mulai taplak meja sampai alat music tradisional ada di sini
• Banyak peluang bagi anda untuk mendapat pasar yang lebih luas, seperti opportunity export dan memperoleh suntikan dana dari kreditur-kreditur yang berlalu lalang di event ini.

Sungguh banyak hal positif dari perhelatan ini, namun tidak sedikit peserta pameran yang boro boro bisa balik modal. Stand sepi pengunjung dan hasil perolehan jauh dari harapan.

Kekuatan sebuah produk laris di pasaran pameran skala besar menurut pandangan saya terletak kepada uniqueness produk itu dan kembali ke kualitas yang rata-rata, minimal bahan itu mampu bertahan lama. Jangan bosan menawarkan produk anda, karena kesabaran itu yang akan membuat orang lain merasa perlu untuk membeli produk anda. Sejujurnya saya masih ingin menjajal sekuat apa daya beli konsumen inacraft tahun 2010, namun blom tau produk apa yang akan saya tawarkan. Hahahaha…

Saya mengamini bahwa pengalaman ini berkesan buat saya sebagai pedangan sekaligus sebagai mahasiswa yang mencoba menjalani secercah celah harapan untuk berjualan di event besar Inacraft 2009. Marah bukan berarti kalah, tetapi jauh lebih baik tidak marah untuk menjadi menang…

Dedicated to all Inacraft 2009 participants

Anggana Bunawan