Munas Golkar, Idealisme, Kepentingan, dan sebagainya

Mungkin beberapa dari kita sudah melihat betapa “dinamis”-nya musyawarah nasional partai berlambang beringin ini beberapa hari lalu. Gaung genderang perang sudah bergulir sejak Jusuf Kalla gagal meraih kemenangan dalam pilpres 2009. Fungsionaris partai seperti Surya Paloh, Akbar Tandjung, Yuddy Chrisnandi, dan Agung Laksono sudah membuka wacana tentang siapa yang akan menjadi nahkoda pada partai terbesar no.2 saat ini.

Beginilah realita dunia politik, semua depends on kepentingan dan kekuasaan. Lobby politik sudah panas jauh hari sebelum munas golkar dilaksanakan. Bahkan Akbar Tandjung sudah melakukan safari politik ke DPD II Golkar sebelum pilpres dilaksanakan untuk melakukan konsolidasi, yang dampaknya dirasa menjadi akar ketidakpaduan dukungan golkar terhadap pasangan JK-Win di Pilpres. Jusuf Kalla memang diujung tanduk ketika popularitasnya semakin menurun. Jabatan wapres hanya tinggal menghitung hari, dan jabatan ketua umum golkar juga akan lepas dari genggaman. Saya masih ingat dengan status update Yuddy Chrisnandi setiap pagi ketika saya membuka account facebok saya. Semua soal Jusuf Kalla, Yuddy dianggap seorang loyalis JK saat itu, dari sarapan pagi sampai makan malam semua untuk JK. Di hari munas Yuddy duduk di sisi Aburizal Bakrie.Jelas sudah dia seperti apa.

Lain lagi dengan Pangeran Cendana, Hutomo Mandala Putra a.k.a Tommy Soeharto, tiba-tiba meramaikan bursa kandidat ketua umum. Impiannya sama seperti kandidat lain “mengembalikan kejayaan golkar”. Pro dan Kontra mewarnai pencalonan kandidat yang membawa selebriti Manohara ke ajang munas golkar ini. Sebagai mantan narapidana, Tommy juga dikenal belum mumpuni di dalam partai era orde baru, baik jaringan maupun dukungan DPD. Soal uang jangan ditanya, Miliaran rupiah dijanjikan untuk pengembangan partai golkar bila ia berhasil terpilih menjadi ketua umumnya. sudahlah ternyata Tommy tidak seambisius itu untuk memenangkan diri sebagai ketua umum Golkar.

Surya Paloh sudah puluhan tahun dia bermain dibawah pohon beringin pun tidak mau ketinggalan meramaikan bursa kandidat. Dukungan mengalir cukup jelas ke bos media group ini. Tokoh asal aceh memang dianggap layak dalam melanjutkan kepemimpinan Golkar setelah Jusuf Kalla. untuk mempertegas saya mengutip beberapa analisa mengenai Surya Paloh

Wawancara Kompas

Surya Paloh, ”Partai ini sudah saya geluti sejak usia 18 tahun. Jadi, bisa dikatakan kakek buyutnya partai. Hari ini, saya masih menjabat Ketua Dewan Penasihat. Kedudukan ini tertinggi di partai. Saya mencalonkan diri karena sadar Golkar sedang di persimpangan jalan. Saya lihat kanan dan kiri saya. Harus ada upaya besar, keberanian moral, dan siap tidak disukai, tidak bisa kompromistis. Kalau punya masalah yang menjadi sorotan publik, lebih celaka lagi. Keunggulan calon lain pasti ada. Saya terlalu banyak pertimbangan, mereka kurang. Kepercayaan diri untuk maju, saya konservatif. Mereka cukup.”

“Adapun Surya Paloh, meskipun untuk persoalan dana dan kekuatan tak ada masalah, ia tak memiliki apa yang dipunyai pesaingnya, Aburizal Bakrie, yaitu segalanya. Sebut saja mulai dari jaringan, uang, hingga dukungan kekuasaan yang menyatu dan terkoordinasi.” sumber : kompas.com

Konsolidasi di bali menjadi gong strategi dari Surya Paloh untuk mensukseskan strateginya merebut kursi ketua umum Golkar. namun akhirnya tuhan berkata lain, hanya 44% suara yang berhasil diraih ketika voting berlangsung. Padahal sebelumnya kubu Surya Paloh mengklaim sudah mengantongi 60% dukungan baik DPD I maupun DPD II.
79810large

Boss Bakrie menjadi juara dalam pertandingan ini pada akhirnya. entah mengapa saya merasa pria asal lampung ini begitu beruntung dalam beberapa kesempatan. Ibaratnya belut pun belum tentu dapat menyaingi kelincahan Ical dalam meloloskan diri. Ical dipertahankan secara mati-matian oleh JK saat penyusunan Kabinet Indonesia Bersatu sebagai Menko Perekonomian. Lolos dari reshuffle kabinet pertama dan diangkat menjadi Menko Kesra. Kasus Lapindo “dianggap” bencana alam. itu semua dukungan dari seorang Jusuf Kalla. Saat Munas, JK hanya duduk berdua dengan Surya Paloh, Abdul Gafur, dan beberapa tokoh Golkar yang sudah sepuh.

Issue yang merebak, SBY juga melakukan manuver dengan mengkritisi pidato JK dikala membuka munas Golkar. SBY terang-terangan mengkritik pandangan JK pada pidatonya yang menginkan Golkar bersikap kristis terhadap pemerintah. SBY mengcounter dengan menyatakan bahwa Golkar merupakan partner yang strategis di dalam percaturan politik nasional dan serangkaian kata-kata manis namun tajam dari mulut Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.

Ical menang itu memang faktanya, dan tidak terbantahkan. waktu akan menunjukan sejauh mana seorang putra Ahmad Bakrie ini mampu menggawangi Golkar mencapai kejayaanya kembali. Komposisi pengurus DPP sudah simpang siur merebak seperti nama-nama seperti Agung Laksono akan menjabat wakil ketua DPP atau Sekjen dan Akbar Tandjung sebagai ketua dewan pembina/pertimbangan. ada 3 gubernur yang masuk yakni gubernur riau, banten dan gorontalo yang masuk dalam jajaran DPP. uniknya masuk nama Rizal Malarangeng dan Titiek Soeharto di dalam komposisi pengurus DPP, Ada apa ini??? seru bukan.

dikala menulis artikel ini, ada komentar pengamat politik Arbi Sanit yang dirilis detik.com

“Di bawah kepemimpinan Ical, Golkar akan tenggelam. Golkar akan menjadi kuli politik SBY,” kata Arbi saat berbincang dengan detikcom, Jumat (9/10/2009).

Beginilah wajah dunia perpolitikan Indonesia, ingatan kita pun masih segar betapa dahsyatnya teriakan-teriakan peserta munas. Seolah-olah tidak ada aturan dan tata krama yang dipatuhi. Hujatan, makian, celetukan-celetukan yang tidak penting bergulir selama sidang munas yang dipimpin oleh Fadel Mohhamad.

Inilah Politik, dunia yang cepat menaikan derajat kita sebagai warga negara namun kala kejayaan itu pudar kita akan merasakan ketidakberdayaan yang luar biasa.