Legitimasi Normatif antara kebenaran dan kepantasan serta pemaksaan

untuk sebagian orang people(ternasuk saya) -mereka punya standar ganda, sangat longgar dan mudah memaafkan diri sendiri, tapi kejam menghakimi orang lain.

Gak akan selesai sampai jilid keberapapun kalau sebagai manusia biasa kita saling menuding atau menghakimi hal-hal yang bersifat in-tangible atas orang lain. belum selesai perhelatan puteri indonesia 2009 yang memenangkan seorang perwakilan dari Nanggroe Aceh Darussalam yang bernama Qory Sandioriva. terjadi perbincangan yang cukup menarik di atas pentas

Presenter Charles Bonar Sirait menanyakan, bahwa kebiasaanya perwakilan dari NAD selalu menggenakan jilbab, begini jawaban dari Qory.

“Saya sudah izin dengan pemda NAD dan Gubernur syukur alhamdulillah mereka mengizinkan. Lagipula rambut bagi saya adalah mahkota. Dan saya ingin memperlihatkannya, karena saya bangga dengan keindahan” ujar Qori di atas panggung.”

jawaban ini menjadi polemik manakala bangsa ini masih memiliki warga negara yang masih sangat sensitif dengan issue yang berbau keagamaan, jadilah bergulir kontroversi ini. pengamatan saya masih hanya sebatas tulisan tulisan di dunia maya.

tapi saudara-saudara, apakah kita memiliki legitimasi menyatakan salah kepada Qory, apakah berhak kita untuk menyatakan Qory anda keliru, sudah cukup pantaskah kita melontarkan opini demikian???

tapi saya menjadi semakin merenungkan diri sendiri ketika membaca penjelasan mengenai norma sosial di wikipedia

Norma sosial adalah kebiasaan umum yang menjadi patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat dan batasan wilayah tertentu. Norma akan berkembang seiring dengan kesepakatan-kesepakatan sosial masyarakatnya, sering juga disebut dengan peraturan sosial. Norma menyangkut perilaku-perilaku yang pantas dilakukan dalam menjalani interaksi sosialnya. Keberadaan norma dalam masyarakat bersifat memaksa individu atau suatu kelompok agar bertindak sesuai dengan aturan sosial yang telah terbentuk. Pada dasarnya, norma disusun agar hubungan di antara manusia dalam masyarakat dapat berlangsung tertib sebagaimana yang diharapkan.

Norma tidak boleh dilanggar. Siapa pun yang melanggar norma atau tidak bertingkah laku sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam norma itu, akan memperoleh hukuman. Misalnya, bagi siswa yang terlambat dihukum tidak boleh masuk kelas, bagi siswa yang mencontek pada saat ulangan tidak boleh meneruskan ulangan.

Norma merupakan hasil buatan manusia sebagai makhluk sosial. Pada awalnya, aturan ini dibentuk secara tidak sengaja. Lama-kelamaan norma-norma itu disusun atau dibentuk secara sadar. Norma dalam masyarakat berisis tata tertib, aturan, dan petunjuk standar perilaku yang pantas atau wajar.

bersedihlah kita kalau kita menjadi minoritas, terjajahlah anda yang memiliki pemahaman yang berbeda, ketika sebuah nilai dipaksakan secara tidak masuk akal. bagi saya kepantasan dan norma itu adalah cambuk yang ada di dalam diri saya sendiri, dikendalikan oleh kesadaran di dalam diri, bukan atas dasar desakan yang bersifat sosial oleh pihak manapun.

Inilah mengapa Indonesia masih terus saja bergolak dengan topic SARA seperti yang saya lakukan dengan tulisan ini, karena HUKUM belum menjadi panglima yang PERKASA di tanah air saya ini. Norma Hukum yang seharusnya menjadi acuan terakhir mengenai pantas-tidakpantas, layak-tidak laya, benar- tidak benar.

saya memang masih sangat jauh dari kepantasan, jauh sekali dari kesempurnaan, seperti yang saya lakukan dengan tulisan ini, saya sudah menuding pandangan lain kurang tepat, dan berusaha meyakinkan pandangan saya. saya minta maaf atas semua ini. hati saya hanya ingin berbagi bahwa tidak ada legitimasi yang membenarkan kita menghakimi diri orang lain dengan kekuatan yang bersifat normatif.