Kabinet Indonesia Bersatu Jilid ke II, Bagi kekuasaan? atau akomodasi politik??

SBY memang sosok yang sangat matematis dalam memutuskan arah langkah kebijakan sebagai pimpinan nasional periode 2009-2014. Penuh perhitungan, strategis, dan sulit diduga. Baik di satu sisi namun ada baiknya SBY melakukan gebrakan tersendiri di masa akhir kekuasaanya sebagai Presiden karena di 2014 secara yuridis SBY tidak dapat lagi mencalonkan diri sebagai calon pimpinan nasional, namun kalau selama 5 tahun periode kepemimpinan ada amandemen ya akan ada cerita lain. Mungkin saja akan ada sosok “bapak” ke dua setelah mantan presiden Soeharto yang menjadi “bapak” selama 32 tahun. Dukungan politis 60.8% pada pilpres dan dukungan parlemen hampir 60% tidak mampu membuat SBY tidur nyenyak.

Dagang Kursi Menteri

Dagang Kursi Menteri

Golkar dan PDI-Perjuangan masih diajak untuk bergabung berkonsolidasi membangun negara ini. Taufik Kiemas di plot dan sudah terjadi faktanya sebagai Ketua MPR RI(WHATT???), entah angin apa yang berhembus di negara saya. Positifnya jika memang arah politik mau diseimbangkan maka hal ini menjadi baik karena ada posisi strategis yang diduduki oleh oposan. Isu yang hampir menjadi fakta juga menyatakan Golkar akan mendapat jatah menteri, seru ya strategi SBY kali ini.

berikut analisa dari pengamat politik Bima Arya, yang juga dikenal akrab di lingkaran SBY.

Yang menarik pada setiap penyusunan kabinet sejak 2004 lalu adalah posisi menteri yang akan diisi oleh kandidat dari parpol yang berkoalisi dengan Partai Demokrat dalam pemilu legislatif dan presiden.

Dari 16 kursi menteri yang diperkirakan diberikan kepada parpol pendukung, Bima memprediksi rinciannya yakni, Partai Demokrat (PD) sebanyak empat kursi, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tiga kursi, Partai Amanat Nasional (PAN) dua kursi, Partai Kebangkiran Bangsa (PKB) dua kursi, dan Partai Golkar (PG) tiga kursi. sumber : Antara

Menyedihkan bagi saya secara pribadi, walau Optimisme tetap harus saya gelorakan di dalam diri saya dengan munculnya prediksi menteri yang dilansir satu media online dan dirangkum dari berbagai sumber.

1. Menko Polhukam: Djoko Suyanto, tim SBY
2. Menko Perekonomian: Hatta Rajasa, PAN
3. Menko Kesra: Agung Laksono, Golkar
4. Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi, tim SBY
5. Menteri Dalam Negeri: Gamawan Fauzi, Gubernur Sumatera Barat
6. Menteri Hukum dan HAM: Patrialis Akbar, PAN
7. Menteri Keuangan: Sri Mulyani, profesional
8. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Darwin Saleh, Demokrat
9. Menteri Perindustrian: M.S Hidayat, Golkar
10. Menteri Perdagangan: Mari Elka Pangestu, profesional
11. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan, PAN
12. Menteri Kelautan dan Perikanan: Fadel Muhammad, Golkar
13. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Muhaimin Iskandar, PKB
14. Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto, profesional
15. Menteri Kesehatan: Nila Djuwita Moeloek, profesional
16. Menteri Pendidikan Nasional: M Nuh, profesional
17. Menteri Sosial: Salim Segaf al Jufrie, PKS
18. Menteri Agama: Suryadharma Ali, PPP
19. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik, Demokrat
20. Menteri Komunikasi dan Informatika: Tifatul Sembiring, PKS
21. Menteri Negara Riset dan Teknologi: Suharna Surapranata, PKS
22. Menteri Negara Koperasi dan UKM: Syarief Hasan, Demokrat
23. Menteri Negara Lingkungan Hidup: Gusti Muhammad Hatta, profesional
24. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar, Ketua Umum Kowani
25. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara: EE Mangindaan, Demokrat
26. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal: Helmy Faishal Zaini, PKB
27. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara: Mustafa Abubakar, profesional
28. Menteri Negara Perumahan Rakyat: Suharso Manoarfa, PPP
29. Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga: Andi Mallarangeng
30. Kepala BIN: Sutanto, mantan Kapolri
31. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal: Gita Wirjawan, profesional

Salah satu nama santer juga dicalonkan jadi menteri pertahanan yakni Purnomo Yusgiantoro. Tim ekonomi kali ini diisi wajah lama yakni Sri Mulyani dan Mari E Pangestu, kedua orang ini memang dipandang kalangan usaha dan profesional sebagai figur yang masih relevan dengan perbaikan ekonomi nasional. Posisi baru wajah lama yakni Hatta Radjasa yang sudah mondar mandir sebagai menteri, mulai menristek, mehub, mensesneg, ketua timnas SBY-Boediono di daulat kini menjadi menko perekonomian. Sambutan terhadap Hatta Radjasa cukup baik, sempat saya mendiskusikan dengan James Riady dari Lippo Group bahwa sosok Hatta merupakan ekskutor yang berani dan bertanggung jawab terhadap apa yang sudah digariskan. Cocok memang dengan tipe SBY-Boediono dengan karakter pemimpin sebagai pembuat konsep.

sbyboedionokartun

Saya selalu mencoba optimis, melihat kabinet gotong royong ini. Banyak partai banyak kepentingan, banyak setoran, banyak target balik modal, tapi memang begitulah realitasnya. Dunia politik akan menjadi padu bila semua memiliki kepentingan dan tendensi yang sama antara satu dengan yang lain. Tidak ada yang menjadi kawan atau musuh abadi di politik. Ingat dong, kala itu Taufik Kiemas menyatakan “SBY tentara yang seperti anak kecil (kekanak-kanakan)” ketika muncul pengunduran diri SBY dari kabinet Gotong Royong Megawati.

Mari diamati dengan lebih lanjut, seberapa besar dampak kabinet koalisi ini, dengan menganut sistem presidensil. Nah Lo.. gimana nih pak SBY…???

Selamat Bekerja Kabinet Indonesia Bersatu jilid II

Anggana Bunawan