Sumpah Pemuda 2009 “Pemuda Bersatu Indonesia Bangkit dan Maju”

Akhirnya besok kita sampe juga di hari sumpah pemuda, kalo kata bang Andi Malarangeng pemuda itu adalah semua yang berusia 16-30 tahun. Pemuda Bersatu Indonesia Bangkit dan Maju, itu kata bang Andi dalam diskusi “Ring Politik” ANTV yang akan ditayangkan besok. Pemuda merupakan penggerak perubahan, penggerak kemajuan, dan sebagai pemersatu. Keadaan ini sering juga ditunggangi beberapa kelompok orang untuk memanfaatkan pemuda untuk kepentingan yang bersifat golongan.

Pemuda Indonesia harus menjadi garda paling depan dalam mencapai cita-cita luhur founding father kita, dimana para pahlawan ingin negara kita menjadi negara yang besar, negara yang makmur, dan negara yang sejahtera. Pemuda pemudi bangsa ini pun sudah menunjukan perannya sejak zaman sebelum merdeka.

Sumpah Pemuda merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, dibacakan pada 28 Oktober 1928. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai “Hari Sumpah Pemuda”.Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Inilah awal dari sumpah pemuda, (sumber : wikipedia)

Sumpah Pemuda 1928

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

SEKARANG

Mau ngapain kita? setidaknya kita bisa memulai dari diri kita sendiri, mari mengisi diri dengan pengetahuan pengetahuan yang akan meningkatkan daya saing kita. Bukan dengan kekerasan kita merubah keadaan, tapi tidak dipungkiri kekerasan masih sering terjadi di negara kita. Pengetahuan yang tinggi akan menjadi senjata yang ampuh dalam menghadapi persaingan global.

Setidaknya kita bisa mempertanggungjawakan perbuatan dan tindakan kita, dengan begitu kita tidak memperburuk keadaan yang ada saat ini. Sikap kritis produktif kita pun dituntut untuk memberikan kontribusi nyata di dalam lingkungan, seperti Sekolah, Kampus, Organisasi bahkan Pemerintah.

Yok kita buat hidup kita menjadi punya arti demi negara kita yang lebih maju..