Supir Angkot dan Penjual Jamu Gendong

Berangkat pagi diantar sama mama naik motor ke pasar ciputat. Hampir setiap hari, saya menelusuri jalan pendek seputar pasar tersebut. Kotor, Becek, Bau, dan tidak tertata memang begitu kenyataanya. Lantas mata saya mulai mencari angkutan umum D.02 rute Ciputat-Pondok Labu. Saya selalu berusaha duduk di kursi depan di samping supir dengan alasana keamanan dan kenyamanan. Hari ini (29/10/2009) saya menaiki supir yang sedang super emosi, dia terus saja mengumpat dan menyalahkan keadaan yang dia alami tentang rejeki yang seret hari itu.

Di dashboard mobilnya perkiraan saya baru ada uang sekitar Rp 30.000 yang diperoleh sejak jam 5 pagi, berarti kalau dihitung dari jam saya naik yakni 07.30 sudah 2.5 jam dia berjibaku dengan jalanan mencari penumpang dan hanya dapet Rp 30.000 (cukup bikin gondok). Ocehannya tidak lepas dari ucapan “Astagfirullah” berulang ulang dia ucapkan kata-kata tersebut. Ini realitasnya. Dia beberapa kali mengumpat SBY karna dianggap tidak mampu memperbaiki keadaan ekonomi masyarakat. Terutama pengendara motor yang jumlahnya semakin banyak tanpa ada kontrol yang dari pemerintah sehingga dampaknya pengguna jasa angkutan umum semakin menurun dan jalanan semakin macet dengan ulah pengendara motor yang tidak tertib dan cenderung liar.

Angkutan Kota

Angkutan Kota

Tidak tahan dengan ucapannya yang membuat hati saya miris, akhirnya saya memilih turun sebelum sampai ke kampus dan berusaha mencari angkot lain dengan tujuan yang sama. Sambil berjalan menuju halte yang ada di depan jalan, saya cuma berucap dalam hati apakah pemimpin di istana sana masih punya hati untuk merasakan penderitaan masyarakat yang masih terhimpit kesulitan. Mobil dinas mewah, kantor mewah, fasilitas mewah, dan tunjangan tunjangan lainya yang semua dibayar dari pajak masyarakat yang notabene nya dibayar oleh masyarakat. Ironis banget keadaan ini.

Perlengkapan Jualan Jamu

Di angkot selanjutnya ada penjual jamu gendong naik masuk ke dalam mobi. Saya menyapa,”Mau keliling dimana bu?”, dia menjawab, “keliling di pasar jumat.” dari logatnya saya rasa dia orang jawa bagian tengah. Bakul berisi botol jamu dan ember gelas sudah siap dipikulnya. Tidak lama berselang ibu itu turun, dan saya sempat menyapa lagi ketika beliau membayar angkot, “Ben laris ya Bu!” ibu itu membalas dengan senyum yang luar biasa. Senyuman penuh harapan yang menetralkan rasa miris saya di dalam hati.