Indonesia kehilangan Gus Dur

“The greatest man who ever touched my public life has passed away”, -Wimar Witoelar-

Sepetik kata dari mantan juru bicara kepresidenan menyikapi wafatnya Mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau kita kenal dengan Gus Dur, Guru Bangsa, Bapak Bangsa, Bapak Pluralisme, Bapak Demokrasi, dan banyak sebutan yang menunjukan sisi seorang negarawan tulen. Beliau wafat makala bangsa ini masih belum menyadari betapa pentingnya berdemokrasi yang sehat. Bangsa yang elite politiknya masih belum dewasa dalam berpikir, yang akibatnya kepada disintegrasi bangsa. Indonesia kehilangan sosok yang sungguh penting dalam perkembangan demokrasi negri ini. Ingatan saya masih sungguh jelas manakala Gus Dur dengan rela hati membela sebuah Gereja Sang Timur yang dipaksa oleh sekelompok massa, walaupun beliau seorang muslimin beliau menunjukan kepedulian yang sungguh mengharukan bagi saya.

Sebagai orang yang masih merayakan tahun baru imlek, saya mengucap syukur atas kebijakan beliau yang memberikan penghargaan bagi hari raya kami kaum etnis tionghoa untuk dapat merayakan hari raya seperti masyarakat pada umumnya. Maka beliau lah bagi saya seorang negarawan sejati yang siap tidak populer demi menegakan kemajemukan bangsa ini.

Pemikiran Gus Dur dari sebuah surat kabar nasional.

KITA dibuat tertegun dengan kenyataan bahwa dalam proses pembangunannya bangsa ini didominasi orang kaya/elite. Tidak punya uang, maka harus “mengalah” dari mereka yang lebih beruntung. Pendidikan dan sebagainya hanya menganakemaskan mereka yang kaya.

Dikotomi kaya-miskin ini berlaku di hampir semua bidang kehidupan. Nah, bagi mereka yang merasa tertinggal, mengakibatkan munculnya rasa marah dan dendam. Pemerintah turut bersalah dalam hal ini, karena mengambil pihak yang salah untuk dijadikan panutan.

Untuk menutupi hal itu, lalu mereka mengambil sikap yang juga salah, yaitu membiarkan salah pengertian satu sama lain antarkelompok melalui politik yang berat sebelah. Contohnya, dibiarkan saja suara berdengung dari garis keras yang meminta pembubaran kelompok minoritas, tanpa memberikan pembelaan kepada mereka.
Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa yang toleran dan penuh sikap tenggang rasa. Namun, kini penilaian tersebut tidak dapat diamini begitu saja, karena semakin besarnya keragu-raguan dalam hal ini. Kenyataan yang ada menunjukkan, hak-hak kaum minoritas tidak dipertahankan pemerintah, bahkan hingga terjadi proses salah paham yang sangat jauh.

Kaum minoritas agama pun meragukan iktikad baik pemerintah dalam melindungi hak-hak mereka. Memang, terucap janji pemerintah untuk melindungi hak-hak minoritas. Namun, tentunya pemulihan perlindungan itu tidak berupa sikap berdiam diri saja terhadap gangguan yang muncul di mana-mana dalam dasawarsa tahun ini.

Tidak lengkap kalau seorang Gus Dur tidak memberikan anekdot pada setiap kesempatan…

Suatu ketika Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius.
Ajudan: Gus, menurut Anda makanan apa yang haram?
Gus Dur: Babi
Ajudan: Yang lebih haram lagi
Gus Dur: Mmmm … babi mengandung babi!
Ajudan: Yang paling haram?
Gus Dur: Mmmm … nggg … babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat sate babi!

Selamat jalan Gus Dur, anggaplah ini istirahat yang indah karena anda sudah memberikan kesan kehidupan mendalam akan sebuah indahnya kemajemukan. Perjuangan anda semoga menjadi inspirasi teladan dalam bertindak para elite politik Indonesia masa kini hingga masa medatang.