yang Saya alami dibalik “Penggerebekan Terorisme Pamulang”

Thanks God, hari ini saya mengalami kejadian yang luar biasa, bersyukur atas perlindungan Tuhan dan merasakan dan melihat langsung betapa ber-resiko-nya pekerjaan petugas kepolisian anti teror. Seperti yang sudah berkembang pemberitaan tentang penggerebekan teroris di kawasan pamulang belum lama ini dan pada waktu yang sama juga sekitar pukul 11.00 saya dan mama ada di sebuah restoran disebelah warnet multiplus yang sekaligus TKP penyergapan tersebut. Saya duduk setelah selesai membayar tagihan telepon selluler di samping multiplus saya kembali ke meja dimana mama dan satu temannya duduk menikmati hidangan khas jawa timur yang disajikan oleh restoran “Amoris”, namun ada satu hal yang lupa bahwa saya berencana membeli voucher isi ulang untuk telepon saya. Maka setelah tidak lama duduk saya berjalan keluar area restoran menuju toko hp di sekitar restoran. Tiba-tiba sebuah mobil kijang dan mobil berukuran besar langsung parkir dengan kecepatan tinggi dan langsung keluar petugas kepolisian (densus 88) dengan pakaian lengkap senjata berlaras panjang. Tanpa banyak gerakan mereka langsung merangsek masuk ke area warnet dan saya dihardik untuk lari sambil merunduk ke area samping kompleks ruko untuk mendapat pengamanan. Beberapa petugas berpakaian preman juga berdatangan masuk ke ruko-ruko sekitar TKP untuk pengamanan lokasi dan warga. Tidak lama bunyi senjata api meletus, seingat saya ada waktu 10-15 menit letupan senjata terdengar dan ada pekikan suara yang menyerukan seruan agama tertentu. Setelah itu suasana menjadi lebih tenang, namun kepanikan masih saja terasa di hati saya.

Saya terus berusaha menelepon mama untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja, namun saya sempat ditegur oleh petugas karena menggunakan telepon genggam karena dicurigai untuk menghubungi pihak yang ada di dalam ruko. Tanpa perlawanan saya mengiyakan demi tujuan kerjasama yang baik dengan pihak kepolisian. Akhirnya mama menelepon saya dan saya boleh diizinkan mengangkat telepon dan ternyata puji tuhan mama sudah diamankan oleh petugas di dalam restoran. Jujur saya takut kalau-kalau tersangka teroris meledakan diri dan itu bisa berimbas ke ruko restoran yang berdempetan langsung dengan TKP.

Saya mencoba bernegosiasi untuk bisa masuk ke restoran untuk bisa bersama orang tua saya, negosiasi itu saya lakukan kira-kira 30 menit setelah kejadian namun petugas menyatakan tidak boleh karena alasan sedang dilakukan olah TKP. Saya hanya bisa menunggu dan terus berkomunikasi lewat sms agar saya dan mama tetap tenang dalam keadaan ini. Kira-kira satu jam akhirnya mama dan temannya diperkenankan keluar dan saya diperbolehkan masuk ke restoran. Puji Tuhan, semua dalam keadaan baik.

Setelah itu mobil saya terparkir di depan restoran bersamaan dengan mobil-mobil densus 88 yang bertugas dan mobil saya masuk di area Police Line, maka persoalan berikutnya harus ada negosiasi untuk bisa mengeluarkan mobil saya yang terparkir di TKP. Setelah dilakukan penjelasan dan terbukti mobil saya tidak ada kaitan dengan kejadian yang berlangsung dengan sigap petugas mengizinkan saya untuk mengevakuasi mobil plus orangtua saya.

Pada akhirnya saya ingin mengapresiasi setinggi-tingginya kepada petugas kepolisian, dan Densus 88 yang telah bekerja dengan sangat berani dan profesional. Saya merasa aman dan terlindungi manakala ketika kejadian berlangsung dengan sigap lokasi disisir dan ditempatkan petugas di titik-titik TKP. Pertaruhan mereka jauh dan jauh lebih besar dibanding kita yang mengalami stress saat kejadian. Kerjasama kita dengan mengikuti semua instruksi petugas sungguh membantu mereka dalam menjalankan tugas. Budaya masyarakat yang sering kali berkerumun di TKP sebenarnya itu membahayakan warga dan sekaligus juga petugas dalam menjalankan pekerjaannya. Kerjasama kita sebagai warga dan petugas kepolisian sungguh penting dalam hubungan dengan tercapainya Ketertiban dan keamanan.

Haru saya pun langsung terasa manakala petugas mengucapkan permintaan maaf sambil menghampiri jendela mobil saya sambil mengatakan, “maaf bu, ibu jadi panik kami mohon maaf”, diiringin dengan tangan kanan yang memberi hormat kepada kami, ditengah resiko dan beratnya tugas yang mereka emban masih ada rasa perhatian yang diberikan kepada masyarakat yang secara tidak langsung menjadi korban dalam proses penyergapan ini. Terus berjuang pak!!! dan Terima Kasih Tuhan atas perlindungan-Mu