Financial Independence !!!

Portofolio Investment – Yuk ber-Investasi dari sekarang…

Senang atau enggak hidup kita sehari-hari dipenuhi dengan berbagai kebutuhan baik primer maupun kebutuhan lain seperti gaya hidup, status social, property, dan sebagainya.. kapan sih seseorang puas dengan apa yang sudah dimiliki?? Apa sudah cukup merasa kaya?? Jawabannya pasti selalu aja ada alasan mencari pemenuhan kebutuhan yang tiada berujung..

Hari ini saya berkesempatan mendengar sharing dari seorang financial planner terkemuka Ligwina Hananto, sangat akrab ditelinga bukan?

Financial Independence, itu istilah dimana kita dapat memenuhi 3 kriteria berikut :
 You can pay your own bill
 You can handle your own debt
 You have property ownership

Kalau ketiga hal tersebut terpenuhi maka bisa dikatakan kita sudah “MERDEKA” secara financial, dengan kemerdekaan itu kita dapat melangkah selanjutnya ke step lanjutan yakni INVESTASI. Banyak pilihan investasi yang ditawarkan seperti deposito, obligasi, reksadana, saham, sampai logam mulia bisa dipilih sesuai dengan karakter resiko seseorang. Karakter tersebut adalah Konservatif, Moderate, dan Aggressive. Tidak ada yang sempurna dari ketiga karakter tersebut, karena objektif kita melakukan investasi itu yang akan menentukan karakter resiko yang kita ambil. Semakin panjang deadline investasi maka kita bisa mematok resiko yang lebih agresif.

Tipe konservatif bisa memanfaatkan instrument Deposito, Obligasi pemerintah (ORI), dan Logam mulia karena kadar likuiditasnya tinggi dan minim resiko. Untuk moderate bisa mulai menggunakan Reksadana campuran maupun reksadana campuran. Kalau anda agresif maka cocok dengan investasi reksadana saham. Ngomong-ngomong apa sih reksadana itu? Reksadana adalah wadah dan pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek /sekuritilainnya.

Ada beberapa bentuk dasar reksadana yakni

 Reksadana Pasar Uang expected return 7%-an
 Reksadana Pendapatan Tetap expected return 10%-an
 Reksadana Campuran Konservatif expected return 10%-an
 Reksadana Campuran Modern expected return 15%-an
 Reksadana Saham Expected Return 25%-an

Pilihannya bisa disesuaikan dengan deadline yang kita canangakan terhadap objektif tujuan. Misalnya jika investasi dilakukan untuk pensiun ketika usia 55 tahun, bila saat ini kita usia 25 tahun maka masih ada waktu 30 tahun untuk berinvestasi sehingga kita bisa menerapkan investasi yang bersifat agresif untuk dapat memperoleh dana tanggungan yang optimal saat pensiun. Faktor resiko yang ditanggung akan terakumulasi dengan return yang volatile sesuai pergerakan pasar. Bila pendidikan kita bisa memilih reksadana campuran karena tenggat investasi rata-rata 7-15 tahun tergantung kapan kita memulainya.

Untuk reksadana saham utamanya dibutuhkan ketahanan mental khusus karena saham sendiri memang pergerakannya super fluktuatif, kasarnya menurut narasumber kita harus siap ketika uang tersebut mengalami penurunan value yang drastis seperti yang terjadi pada tahun 2005 dan 2008. Berinvestasi pada saham dibutuhkan “stamina” yang cukup, dan stamina tersebut adalah Cash Flow yang kuat menghadapi gejolak harga saham. Solusi lain adalah kita menyiasati dengan mendisversifikasi portofolio kita baik pemilihan industry yang saling silang atau disversifikasi across time, yakni kita secara rutin membeli saham pada waktu yang sama seperti satu bulan sekali membeli saham yang sama untuk menutupi faktor resiko dan gejolak harga setiap periodenya.

Dalam memilih Reksadan kita pun harus jeli dan memperhatikan beberapa aspek. Reksadana sudah rilis selama 3-5 tahun. Coba perhatikan kinerja pada tahun 2005 dan 2008, bila pertumbuhannya masih baik berarti reksadana tersebut cukup baik kualitasnya mengingat kondisi pasar sedang kurang baik pd periode tersebut. Cermati juga grafik selama 3-5 tahun terakhir Sebuah reksadana akan terlihat kualitasnya ketika pasar sedang turun, dan akan jelas terlihat bagaimana kualitas investasi tersebut.

Penggunaan reksadana sebagai instrument investasi dapat dipecah pecah sesuai objektif keinginan masing-masing, misalnya ada satu akun reksadana untuk pendidikan, satu akun untuk pensiun, satu akun untuk property dan seterusnya. Hal ini memudahkan pembagian fakor resiko dan pembukuan asset.

Selanjutnya kita juga perlu mengatur pengeluaran kita sesuai dengan pemasukan yang kita peroleh setiap bulannya. Atau mudahnya anda bisa masuk ke quick check up (just klik).

Proporsinya sebagai berikut :

 Investasi 10 – 30 %
 Cicilan hutang < 30 %
 Rutin 20 – 40 %
 Lifestyle 10 – 20 %

Coba dilihat bagaimana proporsi pengeluaran kita sudah cukup seimbang?? Sebagai pemula seperti saya, seorang mahasiswa yang belum berpenghasilan tetap harus tetap bisa mengelola keuangannya dengan baik, contoh kecilnya menurut narasumber adalah bagaimana kita bisa menyisihkan uang jajan dan dimasukan dalam uang simpanan. Sebagai catatan tabungan konservatif sudah ditendang jauh oleh kedua narasumber karena tabungan konvensional tidak memiliki value investasi mengingat value uang tersebut tergerus oleh inflasi serta administrasi tanpa return yang seimbang.

Asuransi itu penting karena asuransi mengambil peran proteksi, dan ada baiknya tidak dicampur aduk dengan investasi karena pengeluaran premi akan menjadi membengkak karena harus mengcover 2 kebutuhan yakni proteksi dan investasi. Narasumber menyarankan untuk kembali ke asuransi murni seperti asuransi jiwa jenis Term Life, karena premi tidak terlalu besar dan periode premi dapat ditentukan 5-10 tahun dengan besaran premi rata-rata sekitar 3 juta/tahun. Asuransi utama yang dibutuhkan adalah asuransi kesehatan, karena pengeluaran tersebut tidak dapat diprediksi dan tidak dapat ditakar besaran yang akan dihabiskan. Untuk asuransi jiwa hanya khusus untuk pencari nafkah yang bila meninggal maka ada keluarga tidak memperoleh penghasilan dari si tertanggung. Jadi tidak semua orang perlu asuransi jiwa.

Dana darurat, adalah dana yang dicadangkan ketika penghasilan berhenti masuk ke kantong kita. Jumlah dana darurat disesuaikan dengan kondisi. Bila single dana darurat adalah 4 kali pengeluaran bulanan, Keluarga kecil anak 1 jumlahnya 6 kali pengeluaran bulanan, anak lebih dari 2 perlu 12 kali dana pengeluaran rutin bulanan. Dana ini tidak harus dianggarkan langsung, sebaiknya disiapkan secara bertahap untuk mengantisipasi keadaan dimana tidak ada proteksi atas pendapatan kita.

Dalam berinvestasi kita tidak dapat terlalu kaku dalam menjalankannya, penggunaaan dana yang bijak dan kesabaran jadi kunci keberhasilan investasi. Semua keinginan dan tujuan kita bisa tercapai bila kita bisa mengelola investasi dengan baik sehingga pada waktunya nanti entah pensiun, menikah, punya anak dan seterusnya kita tidak perlu khawatir dengan proteksi sampai pemenuhan kebutuhan yang lain.

Jadikan setiap spending kita meaningful, buat diri kita terpenuhi dengan penghasilan yang kita miliki dan jangan pernah ragu untuk mencanangkan keinginan selagi masih ada cara yang masih bisa diupayakan. Mulailah investasi dan kelola pengeluaran kita dengan bijak, then kita bisa menikmati hari depan yang lebih damai.

mengelola investasi bisa dianalogikan menanam pohon, harus sabar, telaten, dan rajin diurus.
Semoga bermanfaat…