Rokok, Karier, dan Kesehatan

Seputar Kesehatan akibat rokok

Belakangan ini banyak hal yang memiliki korelasi langsung dengan hal yang berbau rokok, walaupun saya bukan seorang perokok. Saya memperoleh pengalaman luar biasa selama liburan semester lalu tepatnya pada bulan agustus sampai September 2010 ini berkesempatan menjalankan program magang di salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. I learn a lot… terlalu banyak hal yang saya pelajari dan sangat positif bagi perkembangan diri saya. Setelah program magang tersebut saya memperoleh inspirasi seputar skripsi saya yang mengangakat tema employer branding dan saya kaitkan dengan kegiatan di seputar perusahaan rokok tersebut. So, masih akan sangat erat kegiatan hidup saya seputar dengan industri ini. Satu lagi saya juga baru saja gagal dalam penerimaan management trainee di perusahaan yang saya idam-idamkan, dan perusahaan itu adalah perusahaan rokok. Saya rasa anda pun mengetahui betapa menariknya bekerja pada perusahaan rokok dengan segala fasilitas dan kompenasi yang diberikan.

Beberapa hari ini kisah itu berubah, karena orang tua saya dalam hal ini ayah saya divonis mengalami gangguan paru-paru yang diakibatkan tidak lain dan tak bukan oleh kebiasaan merokok yang telah berlangsung lama. Saya terpukul oleh fakta ini, namun saya mencoba menggunakan logika berpikir saya bahwa inilah konsekuensi nyata yang harus selalu siap dihadapi oleh setiap perokok dan itu merupakan akibat pilihan gaya hidup. Saya merasa hal serupa akan dihadapi oleh jutaan perokok di ibu kota ini atau dimana saja para perokok itu berada yang membedakan hanya soal waktu kapan gejala kesehatan itu muncul. Fungsi paru-paru ayah saya sudah berkurang cukup signifikan dari kapasitas normal, dan terlihat cukup gelap dengan foto rontgen. Sahabat saya beberapa kali menceritakan aspek nurani nya yang berkecambuk manakala saya bertanya apakah dia berminat untuk bergabung dalam perusahaan rokok, dengan yakin dia menyatakan tidak akan bekerja pada perusahaan rokok. Saya pun akhirnya mengerti mengapa perasaan itu muncul di perasaan sahabat saya, dan hal itu pahami ketika saya menghadapi kenyataan pada ayah saya sendiri yang harus tekun menjalani proses pengobatan selama 9 bulan dengan biaya yang saya taksir tidak sedikit. Belum lagi perubahaan kebiasaan yang paling sulit akan dihadapi oleh ayah saya, dimana beliau tidak lagi dapat merokok, minum kopi, atau menghirup udara malam dalam jangka waktu yang lama. Saya yakin ini berat untuk ayah saya, dan semoga saya dan keluarga mampu mendukung beliau selama proses penyembuhan ini.

Rokok, dimana produk tersebut menjadi sumber hidup ribuan petani tembakau di jawa sumatera dan menjadi harapan bagi dua ratus ribu tenaga kerja, namun di sisi yang lain jutaan orang sedang menanti dampak negatif dari produk tersebut. Semua hanya soal waktu, regulasi yang ketat pun masih dapat disiasati oleh strategi lapangan yang taktis dan tidak akan mempengaruhi tingkat konsumsi rokok karena efek candu yang diberikan oleh tar dan nikotin akan selalu memanggil si perokok untuk mengkonsumsi lagi dan lagi. Soal rokok dan segala kegiatan baik bisnis ataupun karier kembali soal pilihan, setiap orang merdeka dan bebas dalam memilih, karena setiap pilihan akan mengandung satu konsekuensi yang akan dihadapi dan dipertanggungjawabakn secara pribadi. Pendapatan dari cukai pada tahun 2004 berkisar pada 16,3 triliun Rupiah berkontribusi pada pendapatan negara, namun menurut departemen kesehatan pada tahun yang sama kerugian yang ditanggung akibat dampak kesehatan bila dikalkulasi mencapai 160 triliun Rupiah, besar kerugiaannya dibandingkan keuntungan yang diberikan.

Pesan yang ingin saya sampaikan, kalau bisa berhentilah merokok atau setidaknya kurangilah merokok bagi anda semua yang terlanjur merokok dan sebaiknya jangan coba-coba merokok. Yang mahakuasa telah menganugerahi kita akal dan pikiran untuk memilih dengan bijaksana. Semoga kita selalu sehat dan bisa menjaga kesehatan kita.