Cin(T)a dipengelihatan saya

Film yang mengangkat pesan perbedaan yang terutama perbedaan antara muslim dan kristiani, dan tentang si pribumi dan warga cina keturunan.

Mmmmm….

Apa yang bisa saya katakan ya? Saya sendiri sempat tertidur tiga kali saat menyaksikan film ini karena beberapa angle gambar diambil dengan format yang menurut saya agak abstrak namun tidak menghasilkan efek yg attraktif atau dramatis.

Musiknya pun bagi saya tidak membawa suasana yang membangun mood untuk semakin memperjelas dialog maupun setting film. Kekuatan semua ada di permainan kata-kata yang begitu dalam, sehingga saya sangat setuju film ini dianugerahi the best original script pada Festival Film Indonesia 2009.

Cinta anissa dan cina begitu rumit untuk dicintai penontonnya, walaupun memang begitu adanya cinta didalam bingkai perbedaan agama. Semua langsung menjadi begitu rumit. Tuhan pun belum tentu bisa menunjukan kuasanya ketika konflik akibat perbedaan menyeruak di dunia ini.

Cerita film yang mengambil latar kehidupan dua mahasiswa arsitektur di bandung ini terlalu sepi, hanya mereka berdua yang difokuskan dalam 79 menit, semua soal cina dan anissa walaupun begitu saya kembali tidak bs menangkap keinginan pembuat film ini kepada penontonnya. But well, ini sebuah langkah besar untuk perfilman indonesia dengan mengusung tema perbedaan islam dan kristiani di layar lebar, dengan menunjukan perbedaan itu indah indah dan indah.

Pesan film ini begitu hebat yakni bagaimana cinta menjadi jawaban atas kerumitan sebuah perbedaan, bagaimana cinta jadi penyatu antara dua keyakinan atas saling menghormati. misalnya penggalan dialog ini “Kenapa Allah nyiptain kita beda-beda kalo Allah cuma mau disembah kita dengan satu cara? – Anisa”

Soal ending film ini, saya bingung..

Kesimpulan saya, God is neither just a director nor an architect. Salam hormat saya untuk semua pihak dibelakang layar, percayalah bahwa saya beritikad baik menuliskan tulisan ini.

Anggana Bunawan