Mengejar Surabaya untuk Tembang Puitik Ananda Sukarlan

Beberapa bulan lalu memperoleh notifikasi di dalam jejaring Facebook dari Chendra Panatan dan Patrisna May Widuri seputar kompetisi vocal yang akan dihelat di kota “pahlawan” Surabaya. Menimbang bahwa selama beberapa tahun belakangan mengasah diri dengan berguru bersama guru saya Rainier Revireino, ada rasa ingin ikut serta dalam kompetisi ini. Proses berjalan saya mendaftar dan mencoba mengkomunikasikan dengan guru saya tentang keinginan saya ambil bagian dalam kompetisi itu. Persiapan tidak lama mungkin hanya 1,5 Bulan dengan frekwensi latihan 1 kali dalam seminggu (kurang banget). Kalau dilihat banyak kejadian unik yang mengiringi keikutsertaan saya dalam Kompetisi TPAS ini dari mulai kesulitan mencari pianis sampai mengalokasikan anggaran untuk berangkat ke Surabaya, dan ditambah lagi segudang halangan teknis seperti teknik pernafasan yang mendadak menjadi tidak nyaman di hari-hari akhir persiapan. Oh iya, tidak dipungkiri faktor seorang Maestro Ananda Sukarlan menjadi pemicu keikutsertaan saya dalam kompetisi ini disamping agenda lain yakni untuk mengetahui sejauh mana saya telah mengembangkan talenta yang saya miliki. Saya secar pribadi mencintai karya-karya seorang Ananda Sukarlan motif musik yang diberikan membuat rasa tersendiri saat menikmatinya, pada kompetisi ini saya membawakan beberapa karya beliau yakni Kesetiaan Pohon, Sajak untuk Bungbung dan Berkicaulah Burungku.

Tantangan berikutnya adalah mencari dan memilih pianis di Surabaya bukan soal mudah, karena memilih pengiring perlu ‘chemistry’, bingung karena kalau menggunakan pianis di Jakarta perlu biaya ekstra untuk memberangkatkan ke Surabaya dan itu tidak mungkin secara anggaran pribadi saya. Thanks to Sonja sahabat dan juga guru saya yang mempertemukan saya dengan Andriano Alvin seorang pianis dengan musikalitas yang sangat baik, dan lebih bagus lagi dia seornag pianis yang tinggal di Surabaya. Pertemuan di Pondok Indah Mall secara tidak sengaja itu merupakan berkat tersendiri bagi saya. Bantuan lain juga diberiakn Fero Aldianysah Stefanus dengan memberikan karya Nyiur Hijau – Indonesia Pusaka hasil pemikirannya untuk dapat saya bawakan dalam babak Final kompetisi TPAS, terima kasih banyak Fero semoga terus berkarya di hari mendatang.

Kejadian unik lagi saat ingin berangkat yaitu saya ‘ketinggalan’ pesawat, yang akibatnya adalah tiket saya hangus dan harus membeli tiket kembali. Saya hanya bisa terdiam ketika petugas check in dengan yakin mencoret tiket elektronik saya yang menurut dia terlambat 5 menit dari batas waktu check in. Biasanya saya tidak pernah gentar mengeluarkan argumentasi untuk bisa menyelamatkan hak saya sebagai konsumen, kali itu saya Cuma terdiam saja dan mencoba menenangkan diri, saya coba keluar dari ruang keberangkatan dan membeli tiket kembali dengan bermodal kartu kredit (semoga bill bulan depan bisa terbayar-amin).

Kompetisi membuahkan juara 3 untuk saya, semula saya tidak berani memasang target yang tinggi karena rekan-rekan lain dalam kategori yang sama memiliki kemampuan teknik dan musikalitas serta interpretasi musik yang sangat baik. Terutama kepada Ivan Jonathan dan Adi ‘Didut’ Nugroho yang menempati juara 2 dan juara 1, mereka merupakan lawan yang inspiratif untuk memacu diri saya untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan saya. Pada kompetisi ini saya juga banyak bertemu rekan-rekan lain sesama penggiat musik sasta seperti Indah Pristanti, Christine Tambunan, Stella, Yoseph Christanto dan Pharell Jonathan Silaban. Mereka penyanyi yang penuh dengan bakat dan mampu memberikan warna tersendiri di kompetisi TPAS. Semoga penyelenggara yakni Amadeus Enterprise tidak patah semangat untuk menggelar kompetisi ini secara regular agar ada ajang untuk mengembangkan potensi musik Sastra Indonesia.