Premium akan jadi Rp 6.500 – Kegagalan Pemerintah? atau imbas perang timur tengah?

Tulisan ini bukan bermaksud menghujat atau mendeskreditkan pemerintahan saat ini, intinya soal rencana kenaikan harga bahan bakar bersubsidi yang hingga kini saya masih nikmati dengan harga Rp 4.500 per liter, akan mengalami penyesuaian antara Rp 1.000 – 2.000 sehingga akan ada kenaikan pada kisaran 20 – 35%. Itu hal yang sangat wajar mengingat harga minyak dunia sudah mencapai diatas ambang psikologis yakni US$ 100/Barel. Belum lagi diperkeruh kepentingan negara Adidaya dengan politik Internasional mereka di timur tengah, lengkap sudah goncangan harga minyak dunia tinggal menunggu datangnya gelombang instabilitas ekonomi dunia. Apakah ini wajar? sesuai dengan mekanisme pasar? atau mekanisme siapa? atau kepentingan siapa?

Menjadi tidak wajar dimata saya sebagai masyarakat yang sampai kini belum rela adanya penyesuaian harga BBM bersubsidi, karena pemerintah belum mampu memenuhi RASA KEADILAN di hampir semua lini mulai dari Ekonomi, Politik, Hukum, dan Sosial. Bagaimana dengan KORUPSI? Sekali lagi, bagaimana dengan KORUPSI?, bahkan sekali lagi bagaimana dengan KORUPSI?

Saya tidak menyatakan tidak ada perbaikan, namun hati ini belum sanggup untuk selalu menjadi korban kebijakan pemerintah yang keliru. Masyarakat secara umum harus menelan pil pahit dalam beberapa tindakan untuk menyelamatkan anggaran. Atas nama penyelamatan anggaran yang notabene kebocoran anggaran tersebut masih dinikmati oleh segelintir oknum. Itu yang membuat saya tidak rela adanya kenaikan harga BBM bersubsidi.

Wake up Pak! Bangun dan ajak pula serta sejajaran menteri Anda yang selalu manggut, dengan wajah penuh pemikiran strategis.. saya menyadari itu tidak mudah, tapi sikap kalian para pemangku kebijakan yang tidak pernah terbuka kepada publik itulah yang menyebabkan adanya resistensi atas semua kebijakan yang anda sekalian canangkan.

Pengendalian konsumsi BBM bersubsidi bukan perkara mudah, namun tidak mustahil. Ingatlah apakah BP Migas mampu mengontrol semua distribusi tanpa ada truk tangki yang “kencing” di jalan?? Apakah betul slogan ” Pasti Pas ” itu anda berikan secara kuantitas dan kualitas bensin yang kami masyarakat butuhkan?

Yok Pak SBY, bangun.. bangun.. bangun pak, banyak masyarakat yang berharap atas tindakan bapak untuk membuat bangsa ini lebih baik. Bangun jam 5 pagi, para supir angkot sudah stand by untuk mencari rejeki dengan menghadapi kemacetan di jalan (cc: foke ).. sejak pukul 2 pagi, penjual sayur mangkal di pasar demi mencari selisih harga antara pasar induk dengan supermarket, pukul 6 pagi para orang tua pamit kepada anak istri mencari pekerjaan.. semua berupaya yang terbaik untuk menyambung hidup, pahamilah kami dengan utuh.

Mari bicara, mari mendengar, mari diskusi,…. semoga segala keputusan yang diambil betul-betul memberikan rasa keadilan di masyarakat.