Gubernur yang terlambat “Sadar”

Fauzi Bowo, Bang Kumis, Bang Foke, atau apalah yang dikatakan orang menyapa Gubernur yang sudah menduduki jabatan sebagai pengayom di wilayah DKI Jakarta sejak 2007 kini terlihat sangat gundah menghadapi Pilkada DKI Jakarta putaran ke 2 pada September 2012. Terlambat “Sadar” saya rasa pas untuk menjelaskan bagaimana perangai gubernur yang merupakan alumnus dari perguruan teknik di Jerman dalam bidang tata kota yang belakangan ini mengeluarkan banyak kebijakan yang populis untuk mendongkrak aspek citra kinerja di warga Jakarta. Tidak salah,namun ini sudah menjadi penyakit menahun para pejabat publik yang baru “panas” ketika menjelang akhir masa jabatan.

Pandangan mata saya selama hampir setiap hari selama 1.5 sampai 2 jam (bahkan bisa hampir 3 jam, bukti Jakarta itu macet sekali) menelusuri jalan dari Pamulang sampai kantor di Kawasan Niaga Sudirman semakin ramai dengan spanduk-spanduk yang menunjukan komunikasi yang dilacarkan oleh Pemda DKI yang secara agresif menangkat issue seputar pelayanan kesehatan, pendidikan, infrastruktur, kebersihan, dan sebagainya yang hampir semuanya mengucapkan “terima kasih kepada Pak Gubernur” saat ini yakni tak lain dan tak bukan adalah Fauzi Bowo. Sebagai warga Non DKI Jakarta saya memiliki sinisme tersendiri dengan bentuk komunikasi ini yang menurut hemat saya merupakan bentuk kampanye terselubung yang entah menggunakan dana atau anggaran pemda atau dana kampanye tim sukses calon Gubernur.


Bagaimana tidak, dalam perjalanan selama tahun 2007 sampai saat hari ini saya melihat ya Jakarta sebagai kota masih belum menunjukan pergerakan yang berarti, transportasi yang dibanggakan saja seperti Trans Jakarta menjadi semakin kumuh dan armada yang tersedia makin terbenam seperti penurunan muka tanah ibu kota ini, sebutlah pembangunan jalan dan sarana transportasi massal yang digadang-gadang pada saat masa kampanye lha kok ya baru diteken pada bulan-bulan akhir masa bhakti sebagai gubernur. Ingat kah nasib monorail yang disepakati di akhir masa kekuasaan Sutiyoso? Karena deal dengan Gubernur terdahulu hasilnya proyek ini mandek dan hanya jadi onggokan tiang pancang di tengah jalan protokol, bahkan jadi tempat menempel poster konser artis Korea.

Sekali lagi, ini sudah jadi penyakit lama para pejabat publik yang kadung terlamabat sadar akan amanah yang diberikan oleh pemilih pada diri mereka selaku individu yang diharapkan mampu mengayomi masyarakat sehingga dapat merasakan manisnya pembangunan atas keringat pajak yang terus dibayarkan kepada kas negara bahkan ke kas daerah melalui pajak kota dan jenis-jenis pajak lainnya. Pusing sekali melihat pilkada DKI Jakarta yang telah merusak tatanan masyarakat dari issue sara sampai bentuk-bentuk pembenturan masyarakat yang tidak produktif bagi kedewasaan masyarakat. Dua calon yang ditawarkan juga memiliki kelebihan (ada kah?) dan kekurangan masing-masing yang bagi saya lama-lama gak ada yang bisa dipilih, anggaplah masyarakat awam mungkin akan lebih memilih jalan-jalan ke mall atau bangun siang daripada ikut dalam Pilkada, karena hasilnya bahkan nihil atas partisipasi dan kontribusi sebagai masyarakat yang tertib manakala pemimpin yang datang baru panas di tahun 2017.